Monday, August 5, 2013

Penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia Melalui Penggunaan Alat Peraga Praktik Miniatur Tandon Air terhadap Hasil Belajar Siswa di Kelas X SMA NEGERI 3 Kota Manna

Penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia Melalui Penggunaan Alat Peraga Praktik Miniatur Tandon Air terhadap Hasil Belajar Siswa di Kelas X SMA NEGERI 3 Kota Manna





Oleh Rahmad Ramelan Setia Budi (Guru SMA Negeri 3 Kota Manna dan kini sedang menempuh  Jenjang S-2 Pendidikan Matematika di Pascasarjana Universitas Sriwijaya).



Abstrak

Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah: (1) Untuk mengetahui perbedaan efektivitas pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia pada pembelajaran logika matematika melalui alat peraga praktik miniatur tandon air dengan alat peraga charta rangkaian listrik seri dan parallel, (2) Untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia pada pembelajaran logika matematika melalui alat peraga praktik miniatur tandon air terhadap peningkatan mutu pembelajaran matematika yang ditengarai dengan adanya perbedaan hasil belajar siswa di kelas kontrol dan kelas eksperimen.Ukuran keberhasilan penelitian ini adalah adanya perbedaan hasil belajar antara siswa di kelas kontrol dan kelas eksperimen pada pelajaran matematika  yang dibuktikan dengan meningkatnya hasil belajar secara individual dan klasikal serta nilai rata-rata kelas. Hasil belajar matematika siswa di kelas kontrol menunjukkan: ketuntasan belajar individual 20 orang, ketuntasan belajar klasikal 62,5 % dan rata-rata kelas 64,8 sedangkan hasil belajar matematika di kelas eksperimen menunjukkan: ketuntasan belajar individual 28 orang, ketuntasan belajar klasikal 87,5% dan rata-rata kelas 75,3. Penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia melalui penggunaan alat peraga praktik miniatur tandon air terbukti lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika bila dibandingkan dengan alat peraga charta rangkaian listrik seri dan paralel.

Kata Kunci:       Pendidikan Matematika Realistik Indonesia dan Alat Peraga Peraga Praktik Miniatur Tandon Air.
*Penulis adalah Guru SMA Negeri 3 Kota Manna dan kini sedang menempuh
Jenjang S-2 Pendidikan Matematika di Pascasarjana Universitas Sriwijaya.


PENDAHULUAN

Profesi guru adalah profesi yang penuh dengan aktivitas ilmiah karenanya guru dituntut dapat mewujudkan suasana belajar yang demokratif, kreatif, dan inovatif dalam pembelajaran di sekolah, yaitu suasana belajar yang melibatkan siswa secara aktif baik sebagai subjek maupun sebagai objek belajar sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah sesuai dengan bakat dan potensi yang ada pada dirinya serta secara langsung dan tidak langsung guru dapat meningkatkan mutu pembelajaran.  Namun faktanya, masih banyak guru belum sepenuhnya dapat merealisasikan suasana belajar yang demokratis, kreatif dan inovatif.  Penyebab utamanya adalah guru belum mampu untuk menciptakan alat peraga dan teknik mengajar yang kurang variatif sehingga pembelajaran menjadi monoton dan cenderung membosankan.  Dominasi guru yang terlalu kuat juga membuat kreativitas siswa kurang berkembang selain materi pelajaran matematika yang terkenal abstrak.  Apabila hal ini dibiarkan secara terus-menerus akan menyebabkan mutu pembelajaran menurun sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan tidak akan pernah terwujud secara optimal dan tentu akan berakibat pada hasil belajar dan tingkat kecanggihan berfikir siswa.  Hasil belajar siswa juga masih tergolong rendah.  Berdasarkan hal tersebut maka perlu dirancang suatu media pembelajaran  yang dapat mengkonkritkan materi pelajaran matematika yang tergolong abstrak menjadi nyata.  Kehadiran dunia nyata di dalam kelas sangat membantu siswa dalam mempelajari dan memahami matematika karena penyajian pembelajaran menjadi kontekstual, lebih menarik perhatian dan minat siswa belajar matematika.
Berdasarkan permasalahan di atas maka muncullah pemikiran untuk menekankan pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih melatih kemampuan berfikir, bernalar dan menggali segenap potensi yang ada pada dirinya sehingga siswa mampu menempatkan dirinya sebagai subjek aktif dalam pembelajaran aktif, demokratif, kreatif dan inovatif sehingga dapat terwujud pembelajaran yang efektif dan berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa.  Pembelajaran yang dimaksud adalah penerapan pendidikan matematika realistik Indonesia pada pembelajaran logika matematika melalui alat peraga praktik miniatur tandon air yang dirancang oleh guru sebagai peneliti karena memang belum ditemukan literatur yang membahas tentang pembelajaran yang merupakan pengembangan pembelajaran itu yang dapat dijadikan acuan.  Metode ini diterapkan pada materi pokok pelajaran logika matematika yang sering menjadi permasalahan bagi siswa kelas X di SMA Negeri 3 Kota Manna.  Adapun bagian yang dibahas adalah menentukan nilai kebenaran dari suatu pernyataan majemuk pada materi pokok logika matematika.
Rumusan Masalah
Pada pembelajaran logika matematika di kelas X SMA Negeri 3 Kota Manna terdapat beberapa kompetensi dasar yang tergolong abstrak dan terkadang amat sukar untuk dipahami siswa.  Agar siswa dapat dengan mudah mempelajari dan memahami kompetensi dasar  dan indikator-indikator yang telah ditetapkan itu, perlu dibantu dengan alat peraga praktik miniatur tandon air yang merupakan penerapan pendidikan matematika realistik Indonesia.
Tujuan Penelitian
  1. Untuk mengetahui perbedaan efektivitas pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan pendidikan matematika realistik Indonesia pada pembelajaran logika matematika melalui alat peraga praktik miniatur tandon air dengan alat peraga charta rangkaian listrik seri dan paralel.
  2. Untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan penerapan pendidikan matematika realistik Indonesia pada pembelajaran logika matematika melalui alat peraga praktik miniatur tandon air terhadap peningkatan mutu pembelajaran matematika yang ditengarai dengan adanya perbedaan hasil belajar siswa di kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis penelitian ini adalah bahwa terdapat perbedaan hasil belajar  antara siswa yang diajar dengan penerapan pendidikan matematika realistik Indonesia pada pembelajaran logika matematika melalui alat peraga praktik miniatur tandon air dengan metode charta rangkaian listrik seri dan paralel pada siswa di kelas X-3 sebagai kelas eksperimen dengan siswa di kelas X-4 sebagai kelas kontrol.
Manfaat Penelitian
1          Bagi guru
  1. Memberikan kemudahan dalam menyajikan pembelajaran dan memberikan bimbingan belajar kepada siswa baik secara individual maupun secara berkelompok ketika belajar matematika sehingga dapat meminimalkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi.
  2. Mengembangkan kreativitas, inovasi dan cakrawala berfikir yang luas dalam menerapkan suatu teknik atau model pembelajaran yang lebih menarik peserta didik dalam belajar matematika, lebih variatif, bermakna dan menyenangkan sehingga mutu pembelajaran meningkat.
2          Bagi siswa
  1. Membantu siswa dalam belajar matematika karena materi pelajaran  yang disajikan guru lebih menarik, kontekstual, dan mudah dipelajari dan dipahami sehingga hasil belajar siswa meningkat.
  2. Membantu siswa lebih termotivasi dan responsif dalam mendalami materi pelajaran matematika.
Definisi Istilah
Untuk menghindari adanya kesalahan persepsi terhadap judul penelitian ini, maka peneliti perlu menjelaskan beberapa batasan istilah seperti berikut.
  1. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang berpangkal dari hal-hal yang nyata bagi siswa, menekankan keterampilan proses matematisasi (process of doing mathematics), berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri yang pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan permasalahan baik secara individu maupun berkelompok.  Pada pendekatan PMRI guru berperan sebagai fasilitator atau motivator sementara siswa berpikir, mengkomunikasikan berbagai alasan, melatih nuansa demokrasi  dengan menghargai pendapat orang lain (Zulkardi 2003:3).
  2. Miniatur merupakan sebuah kata yang digunakan karena pada dasarnya cara kerja serta proses yang terjadi dalam alat peraga praktik miniatur tandon ini sama dengan tandon biasa, namun segalanya dibuat dalam skala yang lebih kecil dengan tujuan agar lebih efisien penggunaan dan penerapannya di dalam kelas.
  3. Penerapan pendidikan matematika realistik Indonesia melalui alat peraga praktik miniatur tandon air dalam penelitian ini merupakan suatu strategi pembelajaran yang mengekspresikan langkah-langkah aktivitas belajar berfikir dan bernalar secara matematis dan kontekstual sehingga siswa mempunyai potensi melakukan penemuan kembali terhadap materi pelajaran yang telah dipelajarinya walaupun masih di bawah bimbingan guru, mengingat di kelas tidak banyak siswa yang mampu melakukannya sendiri secara mutlak.
Metode Pembelajaran
Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah metode pembelajaran dengan menerapkan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).  Metode PMRI dipilih dalam pembelajaran karena: (1) mengunakan masalah kontekstual sebagai penerapan dan titik tolak darimana matematika yang diinginkan bisa muncul); (2) menggunakan model atau jembatan dengan instrumen vertikal, perhatian diarahkan pada pengembangan model, skema dan simbolisasi daripada hanya mentransfer rumus atau matematika formal secara langsung; (3) menggunakan kontribusi siswa, kontribusi yang besar pada proses pembelajaran diharapkan dari konstruksi siswa sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal mereka ke arah yang lebih formal atau standar;(4) interaktivitas, negosiasi secara eksplisit, intervensi, kerjasama dan evaluasi sesama siswa dan guru adalah faktor penting dalam proses pembelajaran secara konstruktif dimana strategi informal siswa digunakan sebagai jantung untuk mencapai matematika formal; (5) terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya, pendekatan holistik yang menunjukkan bahwa unit-unit belajar tidak akan dicapai secara terpisah namun keterkaitan dan keintegrasian harus dieksploitasi dalam pemecahan masalah yang berupa jawaban non formal (De Lange, 1987, 1996: Treffers, 1991: Gravemeijer, 1994 dalam Zulkardi 2003: 5).  Selanjutnya Marpaung (2003: 4) mengungkapkan beberapa ciri pendidikan matematika realistik adalah: (1) pembelajaran berpusat pada siswa; (2) Siswa dilatih untuk aktif berfikir dan berbuat; (3) pembelajaran dimulai dari masalah-masalah yang kontekstual atau nyata bagi siswa; (4) siswa diberi kesempatan mengembangkan strategi belajarnya dengan berinteraksi dan bernegosiasi dengan kawan atau gurunya dan guru membantunya; (5) Siswa dibimbing pada pembentukan konsep penyelesaian permasalahan; (6) menekankan proses reinvensi atau rekonstruk; (7) guru berperan sebagai fasilitator atau manejer kelas.
Menurut De Lange, 1987: Gravemeijer, 1994: Freudenthal, 1991 dalam Zulkardi, 2003: 4) tiga prinsip pendidikan matematika realistik adalah; (1) menggunakan situasi yang berupa fenomena-fenomena yang mengandung konsep matematika dan nyata terhadap kehidupan sehari-harinya; (2) situasi yang berisikan fenomena yang dijadikan bahan dan area penerapan dalam pembelajaran matematika haruslah beranjak dari keadaan yang real terhadap siswa sebelum mencapai tingkatan matematika secara formal;(3) peran pengembangan model merupakan jembatan bagi siswa dari situasi nyata ke situasi abstrak atau dari informal matematika ke matematika formal, artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah.
Selain pemikiran di atas metode pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia dipilih dalam penelitian ini karena PMRI bersesuaian dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam hal: (1) titik awal pembelajaran dengan materi kontekstual; (2) karena pendidikan matematika realistik memiliki banyak kesamaan dengan sosio konstruktivisme dalam pembelajaran; (3) Sesuai dalam tujuan, materi, metode dan evaluasi.
Hasil Relajar
Setelah seseorang mengalami kegiatan belajar maka akan mendapatkan suatu hasil belajar yang berupa suatu perubahan tingkah laku.  Perubahan-perubahan yang terjadi usai belajar dapat berupa perubahan dalam aspek pengetahuan, aspek nilai dan aspek keterampilan (Winkel, 1999).  Sedangkan menurut Sardiman (1996:23) hasil belajar meliputi: (1) hal ihwal keilmuan dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif); (2) hal ikhwal personal, kepribadian atau sikap (afektif),dan; (3) hal ikhwal kelakuan, keterampilan atau penampilan (psikomotorik).
Tiap-tiap proses pembelajaran akan selalu menghasilkan hasil belajar.  Cara menilai hasil pembelajaran matematika pada umumnya melalui tes hasil belajar.  Adapun tujuan diberikannya tes menurut Hudojo, (1990: 22) adalah mengukur hasil belajar siswa setelah terjadi proses pembelajaran matematika serta untuk menentukan sampai sejauh mana pemahaman materi yang telah dipelajari.
Pola Kerja dalam Pembelajaran
Pola kerja yang diterapkan dalam pembelajaran ini adalah pola kerja praktik atau eksperimen dengan alat secara individual atau kelompok dengan alat peraga praktik miniatur tandon air sehingga siswa menjadi lebih aktif dan diharapkan mereka dapat menemukan berbagai hal yang terkait dengan pembelajaran baik kognitif, psikomotorik maupun afektif.
Ukuran Keberhasilan
Ukuran keberhasilan yang diharapkan dalam pembelajaran pada penelitian ini adalah terjadi perbedaan nilai persentase jumlah siswa yang tuntas belajar atau jumlah siswa yang ikut program pengayaan dan nilai rata-rata kelas siswa antara siswa di kelas kontrol dan siswa di kelas eksperimen.  Untuk mengetahui keberhasilan siswa tuntas atau belum tuntas dalam belajar dilakukan evaluasi atau penilaian karena evaluasi diperlukan dalam mendukung efektivitas belajar siswa.  Penilaian akan efektif bila mampu menyediakan instrumen yang relevan, tepat waktu, dan bermakna bagi guru dan siswa untuk selalu meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran yang dilakukannya.  Adapun soal-soal evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran pada penelitian ini adalah soal-soal tes uraian bebas karena bentuk instrumen ini dapat dipakai untuk mengukur kompetensi siswa dalam semua tingkat ranah kognitif.
Dalam menilai hasil tes uraian bebas ini, terlebih dahulu diinformasikan kepada siswa tentang kriteria penilaian yang akan dilakukan karena bobot penilaian beberapa nomor ada yang berbeda sehingga berapa besar kemungkinan skors tertinggi untuk setiap butir soal juga diinformasikan kepada siswa.
Siswa dinyatakan berhasil atau tuntas jika mendapatkan nilai lebih dari atau sama dengan 68 sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan dan selanjutnya siswa mengikuti program pengayaan, sedangkan bagi siswa yang mendapatkan nilai kurang dari 68 atau di bawah nilai KKM dinyatakan belum berhasil atau belum tuntas dalam pembelajaran dan diwajibkan mengikuti program remidial.  Penelitian juga dikatakan berhasil jika ketuntasan belajar klasikal mencapai 85%, artinya 85 % siswa memperoleh nilai sekurang-kurangnya 68.
METODOLOGI PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan pendekatan yang dipakai adalah pendekatan deskriptif kuantitatif.  Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X-3 sebagai kelas eksperimen dan semua siswa kelas X-4 sebagai kontrol di SMA Negeri 3 Kota Manna pada tahun pelajaran 2007-2008 dengan jumlah siswa masing-masing kelas sama yaitu 32 orang.  Objek penelitian ini adalah penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia melalui alat peraga praktik miniatur tandon air.
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMA Negeri 3 kota Manna yang berjumlah 5 kelas dengan jumlah siswa 156 orang.  Adapun sampel penelitian adalah siswa kelas X-3 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-4 sebagai kelas kontrol.
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa tes.  Bentuk tes adalah uraian bebas.
Metode Pengumpulan Data
Data didapat dengan menggunakan metode tes  yang berupa tes uraian bebas.  Tes ini digunakan untuk melihat perbedaan nilai persentase jumlah siswa yang ikut program pengayaan atau siswa yang tuntas dalam pembelajaran dan nilai rata-rata kelas siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Analisis Data
Data yang telah diperoleh dari metode tes kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan nilai ketuntasan belajar individual menurut Ketuntasan Belajar Minimal (KKM) yang telah ditetapkan dan nilai persentase ketuntasan belajar klasikal serta nilai rata-rata kelas.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembuatan Alat Peraga Praktik Miniatur Tandon Air
Pembuatan miniatur tandon air ini terbagi dua tahap yaitu: (1) Pembuatan miniatur tandon air tipe I dan (2) Pembuatan miniatur tandon air tipe II. Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat kedua tipe miniatur tandon air ini adalah sama yaitu: botol/kaleng plastik bekas minyak goreng ukuran 2 liter, selang plastik, pelubang (paku atau bor), mistar, gunting, cutter, lem atau perekat pipa PVC, air, bubuk pewarna atau gincu warna hijau dan merah, spidol permanen, ember atau stopples bekas permen.
Langkah-langkah pembuatan miniatur tandon air tipe I adalah: (1) Menyediakan sebuah botol/kaleng bekas minyak goreng ukuran 2 liter kemudian membuat sebuah lubang kira-kira 7 cm dari bagian basar botol/kaleng, (2) Selang plastik dipotong secukupnya selanjutnya ditempelkan ke botol/kaleng plastik di atas dengan diberi lem pipa PVC secukupnya dan didiamkan hingga mengering, (3) Memberi tanda pada selang itu “p” pada lokasi tertentu  dan “q” pada lokasi lain pada selang.  Bentuk miniatur tandon air tipe I tampak pada gambar A.1 berikut.
Gambar A.1. “Miniatur Tandon Air Tipe I”
Langkah-langkah pembuatan miniatur tandon air tipe II adalah: (1) Menyediakan sebuah botol/kaleng bekas minyak goreng ukuran 2 liter kemudian membuat sebuah lubang kira-kira 7 cm dari bagian basar botol/kaleng, (2) Selang plastik dipotong secukupnya dan dibentuk dua cabang selanjutnya ditempelkan ke botol/kaleng plastik di atas dengan diberi lem pipa PVC secukupnya dan didiamkan hingga mengering, (3) Memberi tanda pada selang itu “p” pada lokasi tertentu pada cabang I dan “q” pada lokasi tertentu pada cabang II.  Bentuk miniatur tandon air tipe II tampak pada gambar A. 2 berikut.
Gambar A. 2. “Miniatur Tandon Air Tipe II”
B  Prosedur Kerja Praktik Penggunaan Miniatur Tandon Air
Prosedur kerja praktik penggunaan miniatur tandon air tipe I adalah: (1) Mengisi miniatur tandon air tipe I dengan air yang telah diberi bubuk pewarna/gincu hijau secukupnya sambil menekan bagian dasar selang agar air tak mengalir keluar selang.  Selanjutnya lepaskan selang, nampak jelas terlihat air mengalir melalui selang bagian “p” dan selang bagian “q” menuju ujung selang, posisi ini menunjukkan bahwa  kedua bagian selang itu dibiarkan. Hal ini digambarkan pada gambar B. 1 berikut.
Gambar B. 1
(2) Selang bagian “p” dibiarkan, namun selang bagian “q” ditekan dengan menggunakan 2 jari sambil memperhatikan aliran air di ujung selang.  Hal ini digambarkan pada  gambar B. 2 berikut.
Gambar B. 2
(3) Selang bagian “p” ditekan dengan menggunakan 2 jari, namun selang bagian “q” dibiarkan sambil memperhatikan aliran air di ujung selang.  Hal ini digambarkan pada  gambar B. 3 berikut.
Gambar B. 3
(4) Selang bagian “p” dan “q” keduanya di tekan dengan menggunakan 2 jari   tangan kiri kanan sambil memperhatikan aliran air di ujung selang.  Hal ini digambarkan pada gambar B. 4 berikut.
Gambar B. 4
Keterangan selengkapnya prosedur kerja praktik miniatur tandon air tipe I digambarkan pada tabel 1 berikut.
Tabel 1: “Hasil kerja praktik pada miniatur tandon air tipe I”
No
Selang bagian “p’
Selang bagian “q”
Aliran air di ujung selang
1
2
3
4
Dibiarkan
Dibiarkan
Ditekan
Ditekan
Dibiarkan
Ditekan
Dibiarkan
Ditekan
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Prosedur kerja praktik penggunaan miniatur tandon air tipe II adalah: (1) Mengisi miniatur tandon air tipe II dengan air yang telah diberi bubuk pewarna/gincu merah secukupnya sambil menekan bagian dasar selang agar air tak mengalir keluar selang.  Selanjutnya lepaskan selang, nampak jelas terlihat air mengalir melalui selang bagian “p” dan selang bagian “q” menuju ujung selang, posisi ini menunjukkan bahwa  kedua bagian selang itu dibiarkan. Hal ini digambarkan pada gambar B. 5 berikut.
Gambar B. 5
(2) Selang bagian “p” dibiarkan, namun selang bagian “q” ditekan dengan menggunakan 2 jari sambil memperhatikan aliran air di ujung selang.  Hal ini digambarkan pada  gambar B. 6 berikut.
Gambar B.6
(3) Selang bagian “p” ditekan dengan menggunakan 2 jari, namun selang bagian “q” dibiarkan sambil memperhatikan aliran air di ujung selang.  Hal ini digambarkan pada  gambar B. 7 berikut.
Gambar B. 7
(4) Selang bagian “p” dan “q” keduanya di tekan dengan menggunakan 2 jari   tangan kiri kanan sambil memperhatikan aliran air di ujung selang.  Hal ini digambarkan pada gambar B. 8 berikut.
Gambar B. 8
Keterangan selengkapnya prosedur kerja praktik miniatur tandon air tipe II digambarkan pada tabel 2 berikut.
Tabel 2: “ Hasil kerja praktik pada miniatur tandon air tipe II”
No
Selang bagian “p’
Selang bagian “q”
Aliran air diujung selang
1
2
3
4
Dibiarkan
Dibiarkan
Ditekan
Ditekan
Dibiarkan
Ditekan
Dibiarkan
Ditekan
Ada
Ada
Ada
Tidak ada
Aplikasi Pembelajaran di Kelas
Aplikasi pembelajaran di kelas sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat dan disusun seperti berikut.
  • Standar Kompetensi: Menggunakan logika matematika dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor.
  • Kompetensi Dasar: Menentukan nilai kebenaran dari suatu pernyataan dan pernyataan berkuantor.
  • Indikator: (1) Menentukan nilai kebenaran dari suatu pernyataan, (2) Menentukan ingkaran dari suatu pernyataan, (3) Menentukan nilai kebenaran dari pernyataan majemuk konjungsi dan ingkarannya, serta (4) Menentukan nilai kebenaran dari suatu pernyataan majemuk disjungsi dan ingkarannya.
  • Materi Ajar: Logika Matematika yang terdiri atas: pernyataan dan nilai kebenaran, Negasi dari suatu pernyataan serta pernyataan majemuk konjungsi dan disjungsi dengan ingkarannya.
  • Tujuan Pembelajaran: (1) Siswa dapat menentukan nilai kebenaran dan ingkaran dari suatu pernyataan, (2) Siswa dapat menentukan nilai kebenaran konjungsi dan ingkarannya dan (3) Siswa dapat menentukan nilai kebenaran disjungsi dan ingkarannya.
  • Metode Pembelajaran: metode eksperimen, tanya jawab, diskusi kelompok dan penugasan.
  • Langkah-langkah pembelajaran:
  1. Pendahuluan
1)      Guru mengucapkan salam pembuka dan berdoa bersama kemudian memberi tahu kepada siswa bahawa materi pelajaran yang akan dibahas adalah materi baru yaitu logika matematika.
2)      Guru menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan Kriteria Ketuntasan Belajar minimal (KKM) yaitu sebesar 68.
3)      Guru menginformasikan bahwa pada pembelajaran logika matematika terdapat beberapa tabel kebenaran, dan yang akan dipelajari adalah konjungsi dan disjungsi.
4)      Membahas pengetahuan prasyarat berupa ungkapan dalam bentuk kalimat terbuka, berupa 4 + x = 9, untuk x anggota bilangan asli dan berupa kalimat yakni “Kota Manna adalah kota yang bersih, indah dan nyaman”. Kalimat terbuka 4 + x = 9, bila x diganti dengan 5 maka akan berubah menjadi suatu pernyataan yang bernilai benar dan bila x diganti dengan 3 maka akan berubah menjadi pernyataan yang bernilai salah.  Kalimat “ Kota Manna adalah kota yang bersih, indah dan nyaman” belum menjadi suatu pernyataan karena masih harus kita selidiki kebenarannya.
5)      Guru mengumumkan nama-nama anggota kelompok dan ketuanya untuk kegiatan diskusi kelompok.
  1. Pengembangan
1)      Guru membimbing siswa untuk mengkonstruksi kembali tentang suatu pernyataan atau ungkapan dalam matematika hanya mempunyai nilai kebenaran tunggal yaitu benar saja atau salah saja dan tidak kedua-duanya.
2)      Negasi atau ingkaran dari suatu pernyataan yang bernilai benar (B) adalah salah (S) demikian pula sebaliknya bahwa ingkaran dari suatu pernyataan yang bernilai salah (S) adalah benar (B).  Jika diketahui bahwa “p” adalah suatu pernyataan maka ingkarannya adalah “-p” sehingga jika  “p” benar maka “-p” adalah salah demikian pula sebaliknya jika “-p” bernilai benar maka “p” akan bernilai salah.
3)      Guru menjelaskan kepada siswa bahwa pada pertemuan hari ini akan dilakukan eksperimen yang berkaitan erat dengan materi pelajaran yang akan dibahas.  Guru mengajak siswa untuk memperhatikan alat peraga miniatur tandon air tipe I dan tipe II yang telah dipersiapkan.  Kemudian guru meminta siswa untuk memperagakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan yang termaktub dalam lembar kegiatan siswa yang telah dicatat di papan tulis sementara itu beberapa siswa lainnya memperhatikan dan mencatat apa saja yang terjadi pada peragaan itu.  Adapun lembar kerja siswa itu adalah seperti berikut.
P
q
ada tidaknya aliran air
Miniatur tandon
Air tipe I
Miniatur tandon
Air tipe II
Dibiarkan Dibiarkan
Ditekan
Ditekan
Dibiarkan Ditekan
Dibiarkan
Ditekan
………………. ……………….
……………….
……………….
………………. ……………….
……………….
……………….
Ternyata pada hasil peragaan itu terlihat pada tabel berikut.
P
q
ada tidaknya aliran air
Miniatur tandon
Air tipe I
Miniatur tandon
Air tipe II
Dibiarkan Dibiarkan
Ditekan
Ditekan
Dibiarkan Ditekan
Dibiarkan
Ditekan
Ada Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada Ada
Ada
Tidak ada
4)      Guru memberikan permasalahan kontekstual sebagai pendekatan informal untuk peristiwa konjungsi dan disjungsi dan meminta siswa untuk mendikusikannya bersama kelompok belajarnya masing-masing seperti berikut.
Syarat transaksi jual beli
Kegiatan transaksi jual beli
Dapat terjadi
p=ada penjualq=ada pembeli
p dan q
Ada Ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada Tidak ada
Ada
Tidak ada
………………………..
………………………..
………………………..
………………………..
Dan
Janji memberi hadiah
Buku atau alat tulis
Janji terpenuhi
p=dihadiahi bukuq=dihadiahi alat tulis
p atau q
Ada Ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada Tidak ada
Ada
Tidak ada
………………………..
………………………..
………………………..
………………………..
Hasil diskusi siswa selengkapnya sebagai berikut:
Syarat transaksi jual beli
Kegiatan transaksi jual beli
Dapat terjadi
p=ada penjualq=ada pembeli
p dan q
Ada Ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada Tidak ada
Ada
Tidak ada
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Janji memberi hadiah
Buku atau alat tulis
Janji terpenuhi
p=dihadiahi bukuq=dihadiahi alat tulis
p atau q
Ada Ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada Tidak ada
Ada
Tidak ada
Ya
Ya
Ya
Tidak
5)      Guru membawa siswa ke proses pematematikaan formal dengan  mengarahkan alur berfikir siswa,  bahwa kedua tabel di atas bersesuaian dengan logika matematika, selanjutnya guru menekankan bahwa operasi biner  adalah lambang konjungsi untuk “dan” sedangkan operasi biner  adalah lambang disjungsi untuk “atau” sehingga dapat ditulis tabel kebenaran konjungsi seperti berikut.
p
q
Benar
Benar
Salah
Salah
Benar
Salah
Benar
Salah
Benar
Salah
Salah
Salah
Dan tabel kebenaran disjungsi seperti berikut.
p
q
Benar
Benar
Salah
Salah
Benar
Salah
Benar
Salah
Benar
Benar
Benar
Salah
  1. Penerapan
Agar siswa dengan kerja samanya dapat terlatih menggunakan tabel kebenaran konjungsi dan disjungsi untuk membuktikan pernyataan-pernyataan majemuk yang ekivalen maka dengan metode diskusi kelompok guru meminta siswa mengerjakan soal-soal seperti berikut.
  1. Kapankah konjungsi bernilai benar?
  2. Kapankah disjungsi bernilai salah?
  3. Buktikanlah dengan tabel kebenaran:
    1. Gambarlah menurut pendapatmu alat miniatur tandon air yang berhubungan dengan logika matematika seperti berikut:
Jawaban yang diharapkan adalah seperti berikut.
1)      Konjungsi hanya bernilai benar jika “p” dan “q” keduanya benar.
2)      Disjungsi hanya bernilai salah jika “p” dan “q” keduanya salah.
3)      a. terbukti.     b.tidak terbukti      c.tidak terbukti      d.terbukti.
4)      dapat digambarkan seperti berikut.
  1. Penutup
Pembelajaran ditutup dengan membuat rangkuman tentang tabel kebenaran konjungsi dan disjungsi, kemudian guru menginformasikan kepada siswa bahwa pada pembelajaran logika matematika berikutnya adalah pernyataan majemuk implikasi, bi-implikasi dan penarikan kesimpulan.  Selanjutnya guru memberikan pekerjaan rumah (PR) seperti berikut.
A. Tentukan ingkaran dari:
  1. Manna adalah kota sekundang setungguan dan ibukota kabupaten Bengkulu Selatan.
  2. Lulus tes pegawai negeri dan memperoleh surat keputusan untuk bekerja.
  3. Belajar kelompok bersama teman atau mengikuti bimbingan belajar.
  4. 19 adalah bukan bilangan ganjil atau bukan bilangan prima.
  5. Gambarlah menurut pendapatmu alat miniatur tandon air yang berhubungan dengan logika matematika seperti berikut.
Jawaban permasalahan A yang diharapkan adalah seperti berikut.
  1. Manna bukan kota sekundang setungguan atau bukan ibukota kabupaten Bengkulu Selatan.
  2. Tidak lulus tes pegawai negeri atau tidak memperolehsurat keputusan untuk bekerja.
  3. Tidak belajar kelompok bersama teman dan tidak mengikuti bimbingan belajar.
  4. 19 adalah bilangan ganjil dan bilangan prima.
Jawaban permasalahan B yang diharapkan adalah sebagai berikut.

Penilaian Hasil Belajar
Sebagai evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar, maka dilakukan penilaian hasil belajar siswa berupa tes uraian.  Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Hasil Belajar Siswa
Pada Kelas Eksperimen:
Hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yakni di kelas X-3 adalah:
1)      Siswa yang tuntas belajar secara individual sebanyak 28 orang.
2)      Nilai rata-rata kelas adalah 75,3.
3)      Nilai ketuntasan belajar klasikal 87,5%.
Jika dihubungkan dengan indikator keberhasilan maka angka 87,5% berarti ketuntasan belajar secara klasikal telah tercapai karena sebanyak 87,5 % siswa yang mencapai nilai KKM 68.
Pada Kelas Kontrol:
Hasil belajar siswa pada kelas kontrol yakni di kelas X-4 adalah:
1)      Siswa yang tuntas belajar secara individual sebanyak 20 orang.
2)      Nilai rata-rata kelas adalah 64,8.
3)      Nilai ketuntasan belajar klasikal 62,5%.
Jika dihubungkan dengan indikator keberhasilan maka angka 62,5% berarti ketuntasan belajar secara klasikal tidak tercapai karena sebanyak 62,5 % siswa yang mencapai nilai KKM 68.
Pembahasan Penelitian
Pada Kelas Eksperimen hasil belajar siswa di kelas X-3 adalah: siswa yang tuntas belajar secara individual sebanyak 28 orang, nilai rata-rata kelas adalah 75,3 dan nilai ketuntasan belajar klasikal 87,5% berarti telah melampaui syarat minimal ketuntasan belajar dalam penelitian ini yaitu 85%, dan telah terjadi perbedaan dengan Kelas kontrol yakni siswa di kelas X-4 yaitu: siswa yang tuntas belajar secara individual sebanyak 20 orang, nilai rata-rata kelas adalah 64,8 dan nilai ketuntasan belajar klasikal 62,5%.
Perbedaan secara lengkap antara kelas kontrol dan kelas eksperimen di sajikan dalam tabel 3 berikut.
Tabel 3: “Perbedaan hasil belajar antara Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen”
No
Ukuran Keberhasilan
Kelas Kontrol
Kelas Eksperimen
1
2
3
Ketuntasan belajar individual Ketuntasan belajar klasikal(%)
Rata-rata Kelas
20
62,5
64,8
28
87,5
75,3
Bila divisualisasikan dalam bentuk grafik maka tampak perbedaan hasil belajar antara kelas kontrol dan kelas eksperimen dalam gambar 3 seperti berikut.
Gambar 3: “ Perbedaan Hasil Belajar Antara Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen”.


PENUTUP

Simpulan
Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dapatlah disimpulkan bahwa penerapan Pendidikan Matematika Matematika Realistik Indonesia melalui penggunaan alat peraga praktik  miniatur tandon air tipe I dan tipe II terhadap hasil belajar siswa memperoleh hasil belajar: (1) Siswa yang tuntas belajar secara individual sebanyak 28 orang, (2) Nilai rata-rata kelas adalah 75,3, dan (3) Nilai ketuntasan belajar klasikal 87,5% serta telah melampaui syarat minimal ketuntasan belajar dalam penelitian ini yaitu 85%.  Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan guru dalam merancang alat peraga dan melaksanakan pembelajaran dengan penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia melalui penggunaan alat peraga praktik miniatur tandon air tipe I maupun tipe II membawa dampak yang positif terhadap proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.
Dengan demikian dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia melalui penggunaan alat peraga praktik miniatur tandon air  pada pembelajaran logika matematika terbukti lebih efektif bila dibandingkan dengan penggunaan media charta rangkaian listrik seri dan paralel dalam meningkatkan proses dan hasil pembelajaran siswa sehingga meningkatkan mutu pembelajaran matematika.

Saran

1.  Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengembangan penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia melalui penggunaan alat peraga praktik miniatur tandon air secara lebih lengkap, lebih dalam dan lebih sempurna untuk mengantisipasi gejala melemahnya atau menurunnya motivasi dan hasil belajar siswa.
2. Diperlukan daya kreativitas guru untuk dapat merancang dan membuat alat peraga praktik yang sederhana untuk merealisasikan atau memvisualisasikan secara nyata suatu konsep materi pelajaran matematika yang tergolong abstrak karena masih sedikit dan terbatasnya atau belum adanya alat peraga matematika di sekolah.


DAFTAR PUSTAKA
Kontak 081333052032

Impelementasi Pendekatan Matematika Realistik dengan Metode Pq4r Berbantuan LKS dalam Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Negeri 4 Singaraja

Impelementasi Pendekatan Matematika Realistik dengan Metode Pq4r Berbantuan LKS dalam Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Negeri 4 Singaraja




Impelementasi Pendekatan Matematika Realistik dengan Metode  Pq4r  Berbantuan LKS  dalam Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Negeri 4 Singaraja.

Oleh I Gusti Ngurah Pujawan [Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Pendidikan MIPA,  IKIP Negeri Singaraja].



ABSTRAK

            Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang pelaksanaannya dirancang dalam tiga siklus. Rancangan untuk tiap siklus terdiri atas empat tahapan, yakni : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, oservasi/evaluasi, dan refleksi. Sebagai subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas VIIIA SMP Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2005/2006 yang terdiri atas 38 orang siswa.  Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk  (1) meningkatkan motivasi belajar siswa, (2) meningkatkan prestasi belajar siswa, (3) mengetahui mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang diimpelementasikan.  Data tentang motivasi belajar siswa dalam pembelajaran dikumpulkan dengan melalui angket, data prestasi belajar siswa dikumpulkan melalui tes prestasi belajar, dan data tentang tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang diimplementasikan dikumpulkan dengan angket. Selanjutnya, data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, impelementasi pendekatan matematika realistik dengan metode PQ4R berbantuan LKS dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, prestasi belajar siswa, dan tanggapan siswa terhadap implementasi model pembelajaran tergolong positip.

Kata kunci : pendekatan matematik realistik, PQ4R, lembar kerja siswa

ABSTRACT


This research is a classroom action research designed to be carried out in three cycles. The design of each cycle consist of four stages, i.e : planning, implemention, observation/evaluation, and reflection. Subject of this research  is  students of class VIIIA of SMP Negeri 4 Singaraja in  2005/2006 academic year wich consisted of 38 students.  The aims of this research are (1) to improve students’ motivation, (2) to improve students’ achievement, and (3) to know and describe students’ response toward the implementation of teaching learning model.          Data of students’ motivation were collected through questionnaire, students’ achievement by using students’ achievement test, and data of students’ response toward the implementation of teaching learning model by using questionnaire. Thus, all of data were analyzed descriptively.  The results of this research show that, implementation of realistic mathematics approach with PQ4R methods using students’ work sheet improve the students’ motivation, students’ achievement, and there is a positive students’ response toward the implementation of teaching learning model.

Key words: realistic mathematics approach, PQ4R, students’ work sheet


1. Pendahuluan
Berbagai upaya terpadu telah dilakukan pemerintah dalam rangka  meningkatkan kualitas pendidikan, misalnya melalui penyempurnaan Kurikulum 1984 menjadi Kurikulum 1994 dan selanjutnya mulai tahun 2004 pemerintah mulai memberlakukan kurikulum baru yang disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), penataran guru tentang proses belajar mengajar, kegiatan MGMP, dan sosialisasi Model Pembelajaran yang inovatif dan produktif melalui kegiatan seminar dan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh instansi terkait. Namun demikian, semua usaha tersebut belum membuahkan hasil yang optimal. Hal ini tercermin masih rendahnya Nilai Ebtanas Murni (NEM) atau Nilai Ujian Akhir Murni (NUAM) yang dicapai siswa. Rendahnya prestasi belajar siswa SMP, khususnya dalam mata pelajaran matematika dapat dilihat dari rata-rata NEM atau NUAM yang diperoleh siswa, yang sampai saat ini masih menjadi sorotan banyak pihak di masyarakat. Secara berturut-turut dalam lima tahun terakhir ini, yaitu sejak tahun ajaran 1999/2000 sampai dengan 2003/2004 untuk daerah kabupaten Buleleng rerata NEM/NUAM matematika yang diperoleh siswa SMP belum pernah melampui 6,0 (Depdiknas Kab. Buleleng, 2004), dan ini keadaan juga terjadi di SMP Negeri 4 Singaraja. Terakhir tahun ajaran 2003/2004, berdasarkan informasi yang diperoleh dari Sri Aryani selaku guru matematika di SMP 4 bahwa, rerata perolehan NUAM matematika siswa SMP Negeri 4 Singaraja adalah 4,76. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa SMP Negeri 4 Singaraja dalam mata pelajaran matematika belum memenuhi harapan, walaupun rerata ini telah memenuhi standar kelulusan nasional untuk mata pelajaran matematika. Keadaan ini perlu mendapat perhatian dan kajian mendalam oleh kalangan praktisi pendidikan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab serta mencari solusinya.
Hasil pengamatan peneliti terhadap pembelajaran matematika di beberapa kelas di SMP Negeri 4 Singaraja, pada saat membimbing mahasiswa dalam melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) tahun 2004 menunjukkan bahwa, salah satu faktor yang diidentifikasi sebagai penyebab rendahnya prestasi belajar siswa adalah adanya anggapan yang kuang pas bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa. Dengan asumsi ini, para guru mencoba memfokuskan pelajaran matematika pada upaya penuangan pengetahuan matematika sebanyak mungkin kepada siswa. Dengan demikian, metode transfer informasi yang sering dikenal dengan metode mengajar klasik (ceramah) dianggap sebagai metode yang paling efektif dalam menuangkan pengetahuan kepada siswa.
Model ceramah sangat tidak sesuai dalam pembelajaran matematika, karena konsep-konsep yang terkandung dalam matematika merupakan konsep yang memiliki tingkat abstraksi tinggi. Dengan model ini, siswa cenderung siswa menghafal contoh-contoh yang diberikan guru tanpa terjadi pembentukan konsepsi yang benar dalam struktur kognitif siswa. Keadaan seperti ini membuat siswa mengalami kesulitan dalam memaknai konsep sehingga beresiko tinggi terjadinya miskonsepsi. Tidak bermakna dan terjadinya miskonsepsi ini akan menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep lebih lanjut. Bagi siswa, belajar matematika tampaknya hanya untuk menghadapi ulangan atau ujian dan terlepas dari masalah-masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga pelajaran matematika dirasakan tidak bermanfaat, tidak menarik, dan membosankan. Kondisi seperti ini, diyakini tidak akan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa, dan akhirnya bermuara pada rendahnya prestasi belajar yang dicapai siswa.
Permasalahan di atas, disikapi melalui suatu tindakan berupa implementasi pendekatan Matematika Realistik dengan metode Preview-Question-Read-Reflect-Recite-Review (PQ4R) berbantuan Lembar Kerja Siswa (LKS). Dipilihnya tindakan ini sebagai alternatif pemecahan masalah, yang dilandasi oleh beberapa agumentasi. Pendekatan matematika realistik diadopsi dari kata Realistic Mathematics Education (RME) yang merupakan teori pembelajaran dalam pembelajaran matematika. RME pertama kali diperkenalkan di Belanda pada tahun 1970 oleh “The Freudenthal Institute in the Netherlands” (Fauzan : 2001). Konsep ini menyatakan bahwa aktivitas matematika harus dikaitkan dengan realita, dan matematika merupakan aktivitas manusia (human activities). Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini ditegaskan oleh Gravemeijer (1994), yaitu “Matematika sebagai aktivitas manusia”. Oleh karena itu, siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide-ide (reinvention) dan mengkonstruksi konsep-konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa. Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan realistik. Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak hanya berhubungan dengan dunia nyata saja, tetapi juga menekankan pada masalah nyata yang dapat dibayangkan oleh siswa. Jadi, penekanannya adalah membuat suatu masalah itu menjadi nyata dalam pikiran siswa. Usaha untuk membangun kembali konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika dapat dilakukan dengan penjelajahan berbagai situasi nyata (realistik) dan permasalahan-permasalahan dunia nyata (de Lange dalam Suradi, 2001). Dengan demikian, pada pendekatan realistik, dunia nyata digunakan sebagai titik pangkal untuk mengembangkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika serta mengaplikasikan konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika tersebut ke dunia nyata atau ke bidang lain.
Treffer (dalam Ipung Yuwono, 2001), merumuskan dua tipe pematematikaan, yaitu pematematikaan horizontal dan vertikal. Matematisasi horizontal berkaitan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya bersama intuisi mereka sebagai alat untuk menyelesaikan masalah-masalah dari dunia nyata. Sedangkan matematisasi vertikal berkaitan dengan proses organisasi kembali pengetahuan yang telah diperoleh dalam simbol-simbol matematika yang lebih abstrak. Singkatnya Freudenthal (dalam Ipung Yuwono, 2001) mengatakan “Pematematikaan horisontal berkaitan dengan perubahan dunia nyata menjadi simbol-simbol dalam matematika, sedangkan pematematikaan vertikal melibatkan pengubahan dari simbol-simbol ke simbol matematika lainnya yang lebih abstrak”. Meskipun perbedaan antara dua tipe ini mencolok, tetapi tidak berarti bahwa dua tipe tersebut terpisah sama sekali mengingat pendekatan realistik memberikan perhatian yang seimbang antara pematematikaan horizontal dan pematematikaan vertikal.
Metode PQ4R dikembangkan oleh Thomas dan Robhinson (1972) yamg merupakan penyempurnaan dari metode SQ3R Robhinson (1961). Sesuai dengan namanya metode PQ4R ini terdiri dari enam langkah, yaitu Preview, Question, Read, Reflect, Recite dan Review (dalam Nur, 1999). Pertama, pada tahap Preview siswa diharapkan untuk melakukan survey terhadap materi pelajaran untuk mendapatkan ide tentang topik dan sub topik utama serta pengorganisasian umum. Siswa melakukan identifikasi terhadap materi yang akan dipelajari. Pada langkah ini, siswa membuat ramalan ilmiah tentang materi yang akan dibaca dan dipelajari, selanjutnya berdasarkan judul (pokok bahasan) dan subjudul (subpokok bahasan). Kedua, tahap Question siswa diminta untuk membuat dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi itu saat mereka mempelajarinya, khususnya pada dirinya sendiri, dengan kata-kata yang sesuai, seperti : apa, mengapa, bagaimana, siapa dan dimana. Ketiga, pada tahap Read siswa diminta untuk membaca materi, kemudian membuat catatan-catatan kecil (note taking), tidak membuat catatan-catatan yang panjang. Selanjutnya siswa dapat mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sebelumnya selama membaca materi tersebut. Keempat, tahap Reflect sesungguhnya merupakan refleksi terhadap materi pelajaran. Siswa mencoba untuk memahami materi yang dibaca atau dipelajari dengan cara: (1) menghubungkan materi yang dibaca dengan materi yang diketahui sebelumnya, (2) mengaitkan sub-sub topik dengan konsep-konsep utama, (3) memecahkan kontradiksi dalam materi yang disajikan, dan (4) menggunakan materi itu untuk memecahkan masalah-masalah yang disimulasikan dan dianjurkan dalam materi pelajaran. Kelima, tahap Recite merupakan latihan untuk mengingat kembali materi pelajaran, dengan memberi penekanan pada butir-butir penting (dapat menggunakan judul kata-kata yang ditonjolkan serta catatan-catatan tentang konsep-konsep utama) yang dapat dilakukan dengan mendengarkan sendiri, menanyakan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Keenam, pada tahap Review siswa mereviu materi yang dipelajari, dan memusatkan perhatian pada pertanyaan-pertanyaan dan jawaban yang diperoleh pada langkah sebelumnya dan mungkin perlu membaca ulang materi yang dipelajari apabila siswa merasa kurang yakin dengan jawabannya.
Apabila langkah-langkah pada metode PQ4R ini dikaitkan dengan pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik, maka dapat disimpulkan bahwa melalui langkah preview dan question siswa akan meninjau dan menghubungkan antara pengalaman dan pengetahuan yang mereka telah miliki dengan topik yang mereka sedang pelajari. Pada langkah read dan reflect siswa akan berusaha untuk mempelajari dan memahami topik yang dibahas sehingga mereka memperoleh pengetahuan baru dan memformulasikan pengetahuan itu untuk dirinya sendiri. Selanjutnya pada langkah recite, pengetahuan yang telah terbentuk perlu dimantapkan kembali melalui suatu latihan sehingga pengetahuan tersebut menjadi permanen dalam ingatan siswa. Disadari bahwa setiap siswa  memiliki perbedaan dan keterbatasan, baik pengalaman, pengetahuan awal, dan kecepatan belajar sehingga hal ini berdampak pada kecepatan pemahaman dan penguasaan materi ajar. Sehubungan dengan itu, setiap siswa diberi kesempatan untuk mereviu topik yang telah mereka pelajari (tahap review). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penggunaan metode PQ4R sangat mendukung implementasi pendekatan matematika realistik dalam pembelajaran matematika.
Proses pembelajaran konvensional, umumnya lebih menempatkan guru pada perannya sebagai pusat informasi dan ilmu pengetahuan, dan bahkan kadang menjadi satu-satunya sumber, sekaligus sebagai satu-satunya validator. (Sugiarta, 2001). Berbagai dampak negatif dirasakan dengan keadaan ini, seperti kelas pasif, interaksi satu arah, serta kurangnya perhatian guru terhadap potensi dan gagasan siswa sebagai sumber daya. Namun kini, pengembangan pendekatan matematika realistik melalui berbagai metode (salah satunya PQ4R) merupakan salah satu pendekatan konstruktivis meghendaki peran guru sebagai fasilitator atau mediator yang kreatif dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini, bukan saja karena globalisasi informasi ataupun pengelolaan pembelajaran yang memerlukan bantuan berupa bimbingan, melainkan pebelajar dewasa yang mempunyai ide-ide segar ataupun konsepsi yang dapat berkembang. Disadari bahwa tidak semua guru mempunyai waktu yang cukup untuk memberi bantuan maksimal mendukung proses belajar siswa. Banyak faktor penyebabnya, salah satu di antaranya kurangnya sumber belajar bermutu yang  sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan pemikiran model konstruktivis sosial, maka lembar kerja siswa (LKS) merupakan salah satu sumber belajar yang sesuai, sebab LKS dapat mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran. LKS adalah suatu lembaran yang berisikan sejumlah informasi serta instruksi yang ditujukan untuk mengarahkan siswa bertingkah laku sebagaimana diharapkan pembuatnya, dalam hal ini pengajar (Suwarti, 1996). LKS yang baik adalah LKS yang mampu menjadikan pebelajar mempunyai keinginan untuk beraktivitas sesuai dengan instruksi. Pada dasarnya, LKS sangat tepat digunakan untuk tujuan menjadikan pebelajar yang lambat laun dapat bekerja secara mandiri. Disamping itu, dengan LKS siswa akan mampu mengingat suatu konsep lebih lama bahkan permanen, karena konsep tersebut diperolehnya melalui keterlibatan mental yang tinggi. Sarna (1999) mengemukakan bahwa, penggunaan LKS dapat mengoptimalkan sumber daya siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Beberpa keuntungan spesifik dari pemanfaatan LKS dalam pemebelajaran adalah (1) dapat menumbuhkan kemandirian siswa, (2) dapat menumbuhkan aktivitas, kreativitas, serta motivasi belajar siswa, (3)  menghemat waktu, dan (4) memberi kesempatan yang lebih banyak bagi guru untuk melakukan bimbingan individu ataupun kelompok. Dengan demikian, diyakini bahwa penggunaan LKS sangat mendukung implementasi pendekatan matematika realistik dengan metode PQ4R dalam rangka meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah (1) meningkatkan motivasi belajar siswa, (2) meningkatkan prestasi belajar matematika siswa, dan (3) mengetahui dan mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap impelementasi Pendekatan Matematika Realistik dengan Metode PQ4R berbantuan LKS.
Manfaat praktis yang dapat dipetik dari hasil penelitian ini adalah  (1) siswa yang terlibat dalam penelitian akan memperoleh pengalaman langsung dalam belajar matematika melalui impelementasi pendekatan Matematika Realistik dengan metode PQ4R berbantuan LKS, (2) temuan-temuan dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh guru dalam merancang dan melaksanakan program pembelajaran, dan (3) memberikan pengalaman langsung kepada guru dalam mengimplementasikan pendekatan Matematika Realistik dengan metode PQ4R berbantuan LKS pendekatan Matematika Realistik dengan metode PQ4R berbantuan LKS sebagai upaya meningkatkan kualitas pemebelajaran dan hasil belajar matematika siswa, dan melalui pengalaman ini diharapkan mereka lebih kreatif dalam memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif dan produktif.

 

2. Metode Penelitian

Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas VIIIA SMP Negeri 4 Singaraja Tahun Ajaran 2005/2006 yang terdiri atas 38 orang siswa.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang pelaksanaannya dirancang dalam tiga siklus. Rancangan untuk tiap siklus terdiri atas empat tahapan, yakni : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi. (Kemmis and Taggart, 1988).
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah  (1) data mengenai motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran dikumpulkan melalui angket. Angket ini terdiri atas 12 item, yang penskorannya menggunakan skala Likert, yakni masing-masing item mempunyai skor maksimal 5 dan skor minimal 1, (2) data prestasi belajar siswa dikumpulkan melalui tes prestasi belajar, dan (3) data tentang tanggapan siswa terhadap terhadap strategi pembelajaran yang diimplementasikan dikumpulkan melalui angket yang memuat 10 item dengan penskoran juga menggunakan skala Likert.
Data penelitian ini dianalisis secara deskriptif. Secara keseluruhan penelitian ini dikatakan berhasil jika motivasi dan prestasi belajar siswa meningkat dari siklus ke siklus, dan pada akhir penelitian ini motivasi belajar siswa minimal tergolong cukup, rata-rata kelas, daya serap (DS), dan ketuntasan belajar (KB) berturut-turut minimal 6,5, 65 %, dan  85 %, serta tanggapan siswa terhadap strategi pembelajaran yang diimplementasikan minimal tergolong cukup positip.


3. Hasil Penelitian dan Pembahasan
3.1 Hasil Penelitian
Motivasi belajar siswa dalam penelitian ini diukur melalui teknik yang telah dikemukakan sebelumnya. Dari hasil analisis data, diperoleh bahwa rata-rata skor motivasi belajar siswa pada siklus I sebesar 38,87 yang tergolong cukup. Selanjutnya, diperoleh rata-rata skor motivasi belajar siswa pada siklus II dan siklus III berturut-turut sebesar 45,71 dan 44,66 yang keduanya tergolong tinggi.
Dari hasil analisis data prestasi belajar siswa diperoleh bahwa, skor rata-rata kelas sebesar 6,12 dengan daya serap 61,2 % dan ketuntasan belajar 42,11 % pada siklus I, skor rata-rata kelas sebesar 6,84 dengan daya serap 68,4 % dan ketuntasan belajar 68,42 % pada siklus II, dan pada siklus III diperoleh skor rata-rata kelas sebesar 7,12 dengan daya serap  71,2 % dan ketuntasan belajar 86,84 %.
Berdasarkan hasil analisis data tanggapan siswa diperoleh rata-rata tanggapan siswa secara klasikal sebesar 38,66. Dari kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya, ternyata tanggapan siswa terhadap imodel pembelajaran yang diimplementasikan  tergolong positip.

3.2  Pembahasan
Hasil analisis data menunjukkan bahwa, tindakan yang dilakukan pada siklus I cukup berhasil membangkitkan motivasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata skor motivasi belajar siswa, yakni sebesar 38,87 yang tergolong cukup. Kualitas motivasi belajar siswa pada siklus I ini telah memenuhi kriteria keberhasilan yang ditetapkan.
Dari analisis data prestasi belajar siswa pada siklus I diketahui bahwa skor rata-rata kelas () sebesar 6,12, DS = 61,2 % dan KB = 42,11 %., dan hasil ini belum memenuhi kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan siklus I ini, tim peneliti melakukan diskusi untuk mencermati keunggulan-keunggulan yang perlu dipertahankan dan dikembangkan serta mengkaji kendala-kendala yang menjadi penyebab kurang berhasilnya pembelajaran yang dilaksanakan. Dari hasil diskusi ini dapat disimpulkan bahwa kurang berhasilnya pembelajaran yang dilakukan pada siklus I adalah disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, pada siklus I ini siswa belum terbiasa dan belum mempunyai pengalaman dengan pembelajaran berpendekatan matematika realistik dengan  metode PQ4R berbantuan LKS, sehingga pada awal-awal pembelajaran situasi kelas agak ribut. Kedua, masih rendahnya motivasi siswa untuk belajar, hal ini terlihat dari masih banyak siswa yang malas mengerjakan tugas-tugas yang tertuang dalam LKS. Hal ini kemungkinan dikarenakan siswa kurang memperhatikan petunjuk pengerjaan LKS, bahwa pada setiap akhir pengerjaan LKS akan diadakan tes. Akibatnya, banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menjawab soal-soal evaluasi yang terdapat dalam LKS. Ketiga, pada saat pelaksanaan tindakan siklus I, terdapat beberapa orang siswa yang sudah selesai mengerjakan soal-soal latihan mengganggu temannya yang sedang bekerja sehingga mengganggu proses belajar. Keempat, dalam diskusi dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru, hanya beberapa siswa yang mau mengemukakan pendapat atau menjawab. Hal ini disebabkan oleh kurang beraninya atau kurangnya rasa percaya diri siswa. Kelima, dalam presentasi hasil kerja di depan kelas lebih banyak didominasi oleh siswa yang berkemapuan baik.
Berdasarkan hasil refleksi tindakan yang dilakukan pada siklus I, maka dilakukan tindakan pada siklus II. Tindakan pada siklus II merupakan penyempurnaan dan perbaikan terhadap kendala-kendala yang muncul pada siklus  Pertama, pada siklus I siswa belum terbiasa mengikuti pembelajaran matematika berpendekatan matematika realistik dengan metode PQ4R berbantuan LKS, karenanya guru memberikan arahan kembali kepada siswa bagaimana seharusnya mereka dalam mengikuti pembelajaran. Kedua, dengan berbagai strategi guru berusaha membangkitkan kesadaran dan motivasi siswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Dalam hal ini, guru memberikan perhatian lebih kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah yang ada pada LKS. Ketiga, untuk menangani siswa yang mengganggu temannya dalam mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat dalam LKS dan umumnya siswa ini adalah siswa berkemampuan baik, maka siswa yang telah selesai mengerjakan soal ditugaskan untuk membimbing temannya yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan interaksi antar siswa. Keempat, mendorong siswa yang berkemampuan kurang untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi, dengan memberikan kesempatan bertanya dan menjawab terlebih dahulu, misalnya dengan menunjuk siswa sehingga interaksi tidak hanya terbatas pada siswa yang berkemampuan tinggi. Kelima, dalam presentasi hasil kerja, guru mengarahkan agar presentasi dilakukan secara bergilir.
Dalam pembelajaran pada siklus II siswa sudah mulai terbiasa dalam mengikuti strategi pembelajaran yang diterapkan. Ini terlihat dari keantusiasan siswa yang setelah diberikan LKS, siswa langsung mengerjakan tugas-tugas pada LKS sesuai dengan petunjuk tanpa menunggu perintah. Hal nyata yang dapat dilihat sebagai hasil pelaksanaan tindakan siklus II adalah terjadinya peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa. Dari hasil analisis data terlihat bahwa terdapat peningkatan motivasi belajar siswa baik secara kuantitaif maupun kualitatif. Skor motivasi belajar siswa meningkat dari 38,87 pada siklus I menjadi 45,71 pada siklus II, yang secara kualitatif meningkat dari katagori cukup menjadi katagori tinggi. Peningkatan juga terjadi pada prestasi belajar siswa, yaitu skor rata-rata kelas () = 6,12 ; DS = 61,2 % dan KB = 42,11 % pada siklus I menjadi = 6,84 ; DS = 68,4 % ; dan KB = 68,42 %  pada  siklus II. Dari kondisi ini dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar siswa, rata-rata kelas, DS pada siklus II sudah memenuhi kriteria keberhasilan, namun KB siswa belum memenuhi kriteria keberhasilan, karena KB masih lebih kecil dari 85 %.
Dari hasil refleksi tindakan siklus II, ditemukan beberapa kekurangan, di antaranya  (1) motivasi siswa untuk mengrjakan tugas-tugas relatif masih rendah, (2) siswa yang berkemampuan lebih masih mendominasi jalannya diskusi, sehingga interaksi mengarah dari siswa yang berkemampuan lebih ke siswa yang berkemapuan kurang, (3) masih banyak siswa yang kurang percaya dengan penjelasan temannya dan mereka lebih percaya dengan penjelasan yang dberikan guru. Untuk mengkaji kekurangan-kekurangan yang dialami pada siklus II, maka tim peneliti merefleksi kembali tindakan yang telah dilakukan dalam rangka pelaksanaan tindakan siklus III.
Pada siklus III, guru kembali menekankan pentingnya interaksi antar siswa dan mereka harus saling percaya karena dengan saling percaya inilah akan tumbuh rasa percaya diri. Disamping itu, guru harus dapat mengontrol diri sehingga betul-betul memposisikan diri sebagai fasilitator dan memberi bantuan seperlunya..
Berdasarkan hasil analisis data siklus III diketahui bahwa rata-rata skor motivasi belajar siswa sebesar 44,66 yang secara kualitatif tergolong tinggi. Walaupun secara kuantitatif motivasi belajar siswa tidak meningkat dari siklus I ke siklus II, namun secara kualitatif motivasi belajar siswa masih berada pada katagori yang sama, yakni tinggi. Motivasi belajar siswa pada siklus III sudah memenuhi kriteria keberhasilan.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat peningkatan prestasi belajar siswa dari siklus II ke siklus III, yakni rata-rata kelas () = 6,84 ;  DS = 68,4 % ; dan KB = 68,42 % pada siklus II menjadi  () = 7,12 ;  DS = 71,2 % dan KB = 86,84 %. Dari kondisi ini dapat disimpulkan bahwa, skor rata-rata kelas, DS dan KB siswa pada siklus III sudah memenuhi kriteria keberhasilan.
Hasil analisis data tentang tanggapan sisiwa menunjukkan bahwa tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran ini tergolong positip dengan skor rata-rata sebesar 38,66. Tanggapan positip siswa ini merupakan modal bagi guru dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil di atas, secara keseluruhan penelitian ini dapat dikatakan berhasil karena pada akhir penelitian semua kriteria keberhasilan yang ditetapkan telah terpenuhi. Diyakini bahwa keberhasilan ini merupakan dampak positip dari implementasi pendekatan matematika realistik dengan metode PQ4R berbantuan LKS, mengingat bahwa pendekatan matematika realistik ini sangat cocok dipasangkan dengan metode PQ4R dalam pembelajaran matematika lerlebih lagi menggunakan (Suradi, 2001; Nur, 1999; dan Suwarti 1996). Namun demikian, dibalik keberhasilan masih terdapat beberapa kekurangan dalam penerapan strategi pembelajaran ini, diantaranya : (a) masih belum optimalnya interaksi antar siswa  dalam memecahkan masalah yang dihadapi, (b) masih sulitnya menumbuhkan rasa percaya diri siswa, (c) terbatasnya sarana belajar yang dimiliki siswa, dan hal ini tidak terlepas dari tingkat sosial ekonomi siswa.

4. Penutup
Berdasarkan hasil dan pembahasan hasil penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa (1) implementasi pembelajaran matematika berpendekatan matematika realistik dengan metode PQ4R berbantuan LKS dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, yakni  dari 38,87 (cukup) pada siklus I menjadi 45,71 (tinggi) pada siklus II dan menjadi 44,66 (tinggi) pada siklus III. Secara kuantitatif motivasi belajar siswa memang tidak meningkat dari siklus II ke siklus III, namun secara kuantitatif masih dalam katagori yang sama, yakni katagori tinggi,  (2) implementasi pembelajaran matematika berpendekatan matematika realistik dengan metode PQ4R berbantuan LKS dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII A2 SMP  Negeri 4 Singaraja. Terjadi peningkatan skor rata-rata kelas dari 6,12 pada siklus I menjadi 6,84 pada siklus II, dan menjadi 7,12 pada siklus III. Daya Serap siswa juga meningkat dari siklus ke siklus, yaitu dari 61,2 % pada siklus I menjadi 68,4 % pada siklus II dan menjadi 71,2 % pada siklus III. Hal yang sama juga terjadi pada ketuntasan belajar siswa, yakni : dari 42,11 % pada siklus I meningkat menjadi 68,42 % pada siklus II dan menjadi 86,84 % pada siklus III,  (3)  tanggapan siswa terhadap implementasi pembelajaran matematika berpendekatan matematika realistik dengan metode PQ4R berbantuan LKS tergolong positip.
Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian ini dapat dikemukakan beberapa saran,  yakni sebagai berikut .  (1)  Diharapkan kepada guru matematika kelas VIII A2 SMP Negeri 4 Singaraja untuk menerapkan pendekatan matematika realistik dengan metode PQ4R berbantuan LKS, minimal sesuai dengan rancangan tindakan yang disetting  dalam penelitian ini. (2)  Diharapkan juga kepada para guru matematika lainya untuk menerapkan dan mengembangkan pembelajaran matematika berpendekatan matematika realistik dengan metode PQ4R berbantuan LKS dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran dan hasil belajar matematika siswa.  (3)  Disarankan kepada peneliti lain yang berminat, untuk meneliti lebih lanjut mengenai implementasi model pembelajaran ini dengan tempat dan subjek yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA



Sumber: http://www.infodiknas.com

Saturday, August 3, 2013

Pemanfaatan Alat Peraga dalam Pembelajaran Pengenalan Bangun Geometri Sederhana di Kelas I SD

Pemanfaatan Alat Peraga dalam Pembelajaran Pengenalan Bangun Geometri Sederhana di Kelas I SD




Oleh P. Sarjiman [PGSD FIP Universitas Negeri Yogyakarta].

Abstract

This research was focused on: (1) using visual aids as a media of understanding  simple geometrical shape at the first grade of the elementary school, (2) how the process of teaching/learning, and (3) how the students’ response towards  the teaching/ learning.


To answer the problem was carried out a Classroom Action Research  in the elementary school of Jelaban Sentolo. The subject of the research were the students of the first grade of that elementary school consisting of 31 students. Before the real action was carried out, there was a pre test, and the mean score as the result of the test was 43. The  CAR consisted of 4 steps in each cycle, namely: (1) planning,  (2) action , (3) observation, and (4) reflection. The data were collected by a test, observation and questionare. The data were  analized by using qualitative descriptive.

This CAR was carried out in three cycles. In the first cycle, the teaching / learning was not in accordance with the hope, because the teacher had not given motivation and guidance to the discussion group well. The result of the  test was only 50,4. The students’ response had not been good, and the students’ eagerness in the teaching learning had not been in accordance with the hope. So was the case of the second cycle; though the teaching /learning had been running well,  the result of the test score was only 62. The observation result showed that  the teacher had not fully been able to tackle the students. Many of them had not  actively taken part in the teaching /learning process.  In the third cycle, the result of the test had been higher compared with the stated criterion,  the mean- score was 71. Most of the students took part in the discussion at each own group actively. They felt happy with the teaching /learning carried out. Besides, the teacher had been confidence in managing  the run of the teaching learning.

Key words: Knowing, simple geometrical shape,  the first grade of elementary
school.

Pendahuluan

Pembelajaran matematika masih menjadi masalah bagi sebagian besar anak Indonesia tak terkecuali siswa kelas 1 SDN Jelaban Sentolo.  Hal tersebut  membawa imbas juga pada kualitas pendidikan secara keseluruhan.  Dalam hal ini tentu guru lah yang langsung bertanggung jawab sebab sebagai ujung tombak dan sekaligus yang berhadapan langsung dengan siswa SD.

Marsigit (1996:1) menyatakan, ahli-ahli pendidikan telah menyadari bahwa mutu pendidikan sangat tergantung kepada kualitas guru dan praktik pembelajarannya, sehingga peningkatan kualitas pembelajaran merupakan isu mendasar bagi peningkatan mutu pendidikan secara nasional. Untuk menunjang  kualitas pendidikan,  salah satu di antaranya  perlu  pembenahan dalam mata pelajaran Matematika, sebab mata pelajaran itu merupakan ilmu dasar penting yang bersifat universal. Khusus topik pembelajaran matematika tentang geometri sangat penting untuk dikuasai, sebab selain ilmu tersebut untuk bekal studi lebih lanjut, juga sangat aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Orang menggunakan ilmu tersebut dari hal-hal yang sederhana seperti pengkonstruksian berbagai bentuk mebel, bahan bangunan dan membangunnya pemukiman itu sendiri sampai teknologi tinggi seperti space technology. Situasi pasca gempa yang telah melanda kota Yogyakarta dan sekitarnya, memerlukan ilmu geometri dalam recoverynya terutama dalam pengkonstruksian kembali bangunan-bangunan baik pemukimam maupun gedung pemerintah.  Dengan demikian pembelajaran geometri sangat perlu disajikan dalam bentuk yang seefektif mungkian sehingga benar-benar berdampak pada pemahaman dan peningkatan penguasaan siswa dalam bidang geometri.

Namun demikian, kondisi ini belum tercipta di SD. N Jelaban, Sentolo, Kulonprogo. Pada waktu peneliti membimbing mahasiswa PPL di SD tersebut,mengamati bahwa tidak sedikit guru yang tidak memanfaatkan alat peraga sebagai media untuk memahamkan siswa dalam pembelajaran konsep matematika.    Siswa selalu mengeluh dan mengalami kesulitan jika dihadapkan pada soal matematika khususnya materi bangun geometri serta sebagai akibanya prestasinya rendah, rata-rata nilai matematika belum pernah melebihi 6 pada rentang skor antara 0-10.

Perlu disadari bahwa keefektifan pembelajaran pengenalan bangun geometri sederhana sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam  motivasi, menarik perhatian, dan keaktifan siswa dalam  mengikuti proses pembelajaran  di kelas. Artinya, apabila siswa mempunyai motivasi rendah, perhatian , partisipasi aktif dan  kemandirian belajar siswa kurang, pembelajaran pengenalan bangun geometri tidak akan bermakna lagi. Untuk menyiasatinya salah satu cara adalah memanfaatkan alat peraga untuk memahamkan siswa tentang konsep bangun geometri sederhana.

Sesuai dengan penelitian tindakan kelas yang berupaya melakukan kajian pada suatu objek yang berskala sempit tetapi urgensinya ingin memperbaiki kualitas pembelajaran, maka dalam penelitian ini, peneliti bermaksud melihat peranan alat  peraga dalam  meningkatkan pemahaman siswa tentang bangun geometri sederhana di kelas I  SDN  Jelaban  Sentolo.

Mengacu kepada fakta-fakta seperti terurai di depan, dalam  penelitian tindakan ini dirumuskan permasalahan penelitian seperti berikut ini.  Apakah penggunaan alat peraga dalam pembelajaran Matematika khususnya pengenalan bangun geometri sederhana di SD dapat memotivasi siswa,  mengaktifkan  dan sekaligus meningkatkan prestasi belajar siswa? Sesuai dengan hakikat penelitian tindakan kelas yang bermaksud memperbaiki proses belajar mengajar, maka yang akan dicapai melalui penelitian ini adalah:  (1) memotivasi siswa agar dapat belajar lebih bergairah dengan pemanfaatan alat peraga; (2) mengaktifkan siswa baik mental maupun fisik dengan memanipulasi alat peraga sehingga pembelajaran lebih efektif; (3) meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pemanfaatan media pembelajaran dalam proses pembelajaran dirasa penting karena peserta didik dalam menerima pengalaman belajar atau mendalami materi-materi pelajarannya masih banyak memerlukan benda-benda, kejadian-kejadian yang sifatnya konkret, mudah diamati, langsung diamati, sehingga pengalaman-pengalaman tersebut akan lebih mudah dipahami, lebih mengesan dan daya ingatnya lebih tahan lama. Piaget (dalam Bower & Hilgard, 1981) mengemukakan bahwa perkembangan kognitif anak usia Sekolah Dasar adalah  dalam tahap operasional konkret. Sehubungan dengan itu, supaya pembelajaran berhasil dengan baik, sebaiknya guru mempergunakan media pembelajaran ( alat peraga ).

Alat peraga dan peragaan perlu mendasarkan pada realita budaya yang terjadi pada kehidupan anak setempat. Benda-benda sebagai ilustrasi konsep matematika didasarkan pada hasil budaya setempat. Dengan demikian, pemahaman siswa tentang konsep matematika tidak akan terlepas dari kehidupan nyata yang mereka hadapi sehari-hari. Selain siswa akan benar-benar paham tentang konsep yang dimaksud, mereka akan mampu berkreasi dalam mengaplikasikan konsep matematika pada kehidupan nyata. Menurut J. Bruner ( dalam Hudojo Herman, 1998), penjelasan konsep matematika dimulai dengan benda sesungguhnya (enactive), diteruskan  dengan gambar benda (iconic), dan dilanjutkan dengan penggunaan simbol (symbolic). Para ahli dan praktisi sering melontarkan pendapatnya bahwa siswa Sekolah Dasar terutama kelas rendah akan lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan pengetahuan yang mereka peroleh dalam kehidupan nyata. Terkait dengan hal ini, di USA muncul pendidikan matematika yang dikenal sebagai Mathematics in Contex dan di Belanda dikenal dengan Realistic Mathematic Education ( Sujadi R,1999/2000:100).

Sudjana (2000:100) mengatakan bahwa penggunaan media dalam proses pembelajaran mempunyai nilai: (1) dapat meletakan dasar-dasar untuk berpikir, (2) dapat memperbesar minat dan perhatian, (2) menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan, dan (3) membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.  Media peragaan yang baik yang ada dalam pembelajaran matematika dapat memperjelas konsep, sehingga dapat menarik perhatian siswa. .

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses pembelajaran sesungguhnya cukup banyak. Faktor tersebut antara lain: (a) dari diri siswa itu sendiri, (b) guru (penguasaan materi, pemilihan metode mengajar yang tepat), (c) alat, maupun proses pembelajaran itu sendiri. Dalam proses pembelajaran, pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran merupakan hal yang paling menentukan. Demikian pula tentang prestasi belajar mengenal bangun geometri sederhana, yang dicapai siswa tergantung pada alat peraga pembelajaran dan penguatan yang digunakan guru.  Dalam hal ini  pentingnya  kemampuan guru untuk memilih dan mempergunakan alat peraga. 
Berdasarkan kajian teori di atas, pada penelitian tindakan ini dapat dirumuskan hipotesis tindakan: prestasi belajar pada mata pelajaran Matematika khususnya mengenal bangun geometri sederhana dapat ditingkatkan dengan menggunakan alat peraga. 


Metode Penelitian

Pemilihan sekolah sebagai setting penelitian dilakukan secara porpososif dan SDN Jelaban Sentolo khususnya kelas 1 sebagai pilihannya sebab SD tersebut yang mengalami permasalahan dalam pembelajaran matematika pada materi geometri. Model penelitian tindakan kelas ini menggunakan model yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc. Tagart (1998:13). Prosedur dan langkah-langkah penelitian mengikuti prinsip dasar yang berlaku dalam penelitian tindakan. Desain penelitian tindakan terdiri dari empat komponen yang merupakan proses daur ulang (siklus) mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan  refleksi, serta diikuti perencanaan ulang jika masih diperlukan.  Guru sebagai pelaksana tindakan perlu mengerti pembelajaran pengenalan bangun geometri sesuai dengan karakteristik anak usia kelas I SD; oleh karena itu, ia harus memahami langkah-langkah pembelajaran dan pemanfaatan alat peraga dalam memahamkan anak tentang bangun geometri sederhana.  Tes awal  dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana penguasaan siswa tentang bangun geometri sederhana.
. Guru kelas mengelola jalannya pembelajaran , berinteraksi dengan siswa dan peneliti  membantu jika benar-benar diperlukan. Dalam usaha ke arah perbaikan, perencanaan yang telah disusun bersifat fleksibel dan siap dilakukan perubahan sesuai dengan apa yang terjadi di dalam proses pelaksanaan di lapangan.

Monitoring dilaksanakan  dengan tujuan: (1) untuk mengetahui kesesuaian antara pelaksanaan dengan rencana tindakan; (2) untuk mengetahui seberapa pelaksanaan tindakan yang sedang berlangsung, dengan harapan akan menghasilkan perubahan sesuai yang diinginkan.  Monitoring dilaksanakan oleh peneliti dan kepala sekolah serta  ditambah guru piket. Teknik dan alat pemantauan menggunakan (a) teknik pengamatan partisipatif dengan menggunakan instrumen pengamatan untuk guru dan untuk siswa, (b) teknik interview bebas dengan guru dan siswa. (c) pemanfaatan data dokumen seperti daftar hadir, hasil karya dan tugas siswa.

Data kualitatif yang diperoleh selama monitoring, diadakan interpretasi dan diskusi untuk mendapatkan kesepakatan dan kesimpulan sebagai bahan perencanaan selanjutnya. Data kualitatif diperkuat dengan data kuantitatif hasil tes setelah tindakan dilaksanakan.  Refleksi berfungsi sebagai sarana untuk mengadakan koreksi dan validasi data. Refleksi dilaksanakan mulai dari tahap penemuan masalah, perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Daftar permasalahan yang muncul di lapangan selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk mengadakan perancanaan ulang.  Perlu tidaknya   tindakan lanjutan dilaksanakan, didasarkan pada data kualitatif dari hasil refleksi  dan data kuantitatif yang merupakan tes hasil belajar. Penelitian dihentikan jika   data kualitatif sudah menunjukkan baik (sesuai dengan harapan) dan data kuantitatif  sudah mencapai rata-rata 7,0.  Dalam  penelitian tindakan ini , siswa  kelas I SDN Jelaban Sentolo menjadi subjek penelitian, sebab siswa tersebut yang mengalami permasalahan dalam memahami konsep-konsep matematika khususnya bangun geometri sederhana. Data  dalam penelitian ini dikumpulkan dengan instrumen pemantau proses pembelajaran dan instrumen pemantau reaksi siswa selama pembelajaran. Di samping itu,  data ditambah dengan interview secara insidental. Data yang terkumpul merupakan data kualitatif, sedangkan data kuantitatif dikumpulkan dengan instrumen tes hasil belajar. Data kuantitatif dianalisis dengan teknik statistik deskriptif, yaitu dengan mencari mean, nilai terendah dan nilai tertinggi. Data kualitatif dianalisis dengan teknik interpretatif disertai diskusi , serta rata-rata rating  pendapat



Hasil Penelitian 

Sebelum dilaksanakan  tindakan yang sesungguhnya, peneliti mengadakan tes awal, dengan instrumen tes yang telah disusun sebelumnya. Soal tes didasarkan pada GBPP, dan materi yang telah diberikan guru, sehingga memiliki validitas isi (content validity).   Tingkat kemampuan kelas 1 dalam menyelesaikan soal – soal tentang  pengenalan bangun geometri sederhana menunjukkan rata-rata (mean ) 43 pada rentang skor antara 0 sampai 100, dengan skor tertinggi 80 dan terendah 23. Sebagian besar dari mereka belum menguasai ciri-ciri bangun ruang.

Sebelum tindakan sebenarnya dimulai, guru sebagai pelaksana tindakan perlu menguasai  metode pembelajaran pengenalan bangun geometri sederhana dengan peragaan benda konkret yang diteruskan semi konkret dan akhirnya bentuk abstrak.  Sebelum  tindakan yang sebenarnya dilaksanakan, terlebih dulu diadakan diskusi dengan guru dan diselipkan metode pembelajaran pengenalan bangun geometri sederhana dengan memanfaatkan alat peraga dengan nuansa kooperatif.

Setelah arahan dicapai dan guru kelas 1 mengerti dan memahami arahan dari peneliti, tentang langkah-langkah pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran adalah dua hari berikutnya.  Pada tahap awal penyusunan rancangan tindakan, guru mendiskusikan isi rencana pembelajaran, yaitu tentang pokok bahasan, sub. pokok bahasan  serta tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. Kegiatan guru dan siswa juga dibahas dalam rancangan tersebut. Lembar kegiatan digunakan untuk memandu siswa dalam proses pembelajaran, berisi tentang (1) kegiatan yang dilaksanakan siswa dalam proses pembelajaran, (2) materi yang harus didiskusikan siswa dalam proses pembelajaran dan (3) materi yang harus dipecahkan dalam kelompok.

Perencanaan tindakan selalu disusun sewaktu akan melaksanakan tindakan. Pembelajaran direncanakan untuk menyajikan pengenalan bangun geometri sederhana dalam 1 kali pertemuan (2x 30 menit).   Media yang digunakan pada kesempatan ini adalah :  bentuk bangun datar dan  bangun ruang yang terbuat dari kertas karton.  Di samping itu,  disediakan juga peragaan bangun-bangun tersebut terbuat dari plastik dan kayu serta kawat.

Pelaksanaan tindakan pada siklus 1 ini pada hakikatnya untuk menolong siswa mengenali ciri-ciri bangun geometri sederhana, yaitu: segitiga, segiempat, bola, kubus balok dan tabung. Pada awalnya guru bercerita dan menunjuk benda-benda yang telah dikenal siswa baik yang ada di dalam maupun di luar kelas terutama yang berbentuk segitiga, segiempat, bola, tabung dan kubus, sehingga siswa diharapkan  benar-benar tertarik terhadap situasi pembelajaran. Hal itu pun dikaitkan pula dengan mainan anak-anak khususnya anak sebaya dengan siswa kelas 1. Setelah siswa kelihatan tertarik, mereka diperlihatkan alat peraga bangun datar segitiga dan segiempat yang terbuat dari plastik dan sebagian lagi terbuat dari kertas karton, serta  terbuat dari kawat. Satu per satu guru menceritakan namanya untuk setiap bangun sambil menunjukkannya bangun tersebut.  Guru menganggap bahwa  siswa sudah memahami dan sekaligus mengenal bangun-bangun geometri yang ditunjukkan. Dengan asumsi demikian, selanjutnya, guru membagikan lembar kerja siswa kepada masing-masing kelompok. Lembar kerja siswa dikerjakan secara berkelompok, sehingga mereka mendiskusikan nama- nama gambar bangun yang diberikan. Setelah semua soal terjawab dan terpecahkan, guru langsung mencocokkannya pekerjaan siswa dengan menukar hasil pekerjaan tersebut antar kelompok.  Terjadilah perdebatan dan diskusi di antara mereka dalam mempertahankan jawaban dari kelompoknya masing-masing. Sebagian  besar dari mereka, saling mempertahankan pendapat kelompoknya masing-masing.  Dengan tuntunan guru ke arah kebenaran nama-nama bangun geometri, akhirnya masing –masing kelompok mengakui bahwa yang benar memang benar dan yang salah memang seharusnya salah. Setelah guru menganggap siswa sudah menerima semua jawaban yang sudah ditentukan, akhirnya guru memberikan pekerjaan yang berupa tes akhir pembelajaran kepada siswa.  Tes akhir tersebut dikerjakan secara individual untuk mengukur keberhasilan pada siklus pertama.  Setelah waktu telah selesai, guru mengumpulkan pekerjaan siswa dan sekaligus menutup pelajaran.  Hari berikutnya, setelah guru selesai mengoreksi pekerjaannya, peneliti bersama kepala sekolah, guru sebagai pelaksana pembelajaran, dan guru jaga sebagai pemonitor proses pembelajaran, sepakat untuk mengadakan pertemuan serta diskusi untuk merefleksi proses pembelajaran yang baru saja dilaksanakan.  Berdasarkan data hasil tes yang baru saja dikoreksi guru, nilai rata-rata hasil tes akhir menunjukkan rata-rata baru 50,4. Di samping itu, hasil monitoring terhadap siswa menunjukkan bahwa motivasi siswa mempelajari pengenalan bangun geometri sederhana masih dalam kategori kurang. Masih banyak siswa yang belum berkonsentrasi dan terlibat aktif dalam pembelajaran. Siswa juga belum mendapat kesempatan untuk memahami ciri-ciri bangun yang dikaitkan dengan namanya. Belum kelihatan secara nyata siswa mampu memahami nama-nama bangun dengan ciri-ciri bangun yang tersedia khususnya bangun ruang dan bangun datar segiempat.

Hasil tes akhir menunjukkan capaian prestasi masih rendah. Guru masih kelihatan canggung dan belum sepenuhnya mampu mengendalikan kelas serta membimbing di dalam kelompok diskusi. Pengelolaan waktu pun juga belum sesuai dengan perencanaan.   Pada waktu siswa diberi kesempatan untuk bekerja secara kelompok dalam mengerjakan LKS, tidak sedikit siswa yang berdiskusi sendiri dan tidak mendiskusikan materi pembelajaran. Dari kenyataan yang dapat ditangkap, dan kesepakatan hasil diskusi, dapat disimpulkan bahwa perlu adanya perencanaan pembelajaran ulangan. Dengan kata lain, siklus yang kedua masih perlu diadakan, dengan memperhatikan hal-hal seperti berikut ini.

1. Guru lebih terampil dalam membimbing siswa dan  memanfaatkan alat peraga.
2. Guru lebih terampil di dalam mengelola kelas, terutama dalam memotivasi dan
mengaktifkan dalam bekerja secara kooperatif pada waktu mengerjakan LKS.
3. Guru perlu tegas dalam merespon reaksi dan tanggapan siswa.
4. Siswa perlu diberi ksempatan yang cukup untuk mengingat-ingat kaitan antara   nama bangun geometri sederhana dan ciri-ciri bangun tersebut.
5. Hasil tes akhir diusahakan untuk ditingkatkan dengan memperhatikan ciri-ciri bangun datar segiempat dan bangun ruang yang belum dikuasai siswa.

Pelaksanaan siklus II adalah minggu berikutnya, tepatnya hari selasa, 9,  Agustus 2005. Guru  terlebih dahulu menyusun rencana pembelajaran baru, sebab pelaksanaan secara keseluruhan juga meliputi perencanaan, tindakan (action) yang diikuti dengan monitoring dan diakhiri dengan refleksi. Pada siklus II ini direncanakan masih menyajikan materi tentang pengenalan bangun geometri sederhana dengan menekankan materi yang belum sepenuhnya dikuasai siswa, terutama bangun ruang, yaitu tabung dan kubus.  Seperti pada siklus I, waktu yang direncanakan  adalah (2 x 30 menit) sesuai dengan yang disediakan dalam jadwal.

Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini merupakan usaha untuk membantu siswa di dalam memahami lebih mendalam tentang ciri-ciri bangun geometri sederhana dengan namanya.  Dengan begitu, akhirnya diharapkan prestasi siswa menjadi semakin meningkat.   Pada tahap apersepsi, siswa masih diajak berdiskusi tentang bangun datar segiempat yang telah dipelajari sebelumnya serta nama-nama bangun ruang yaitu kubus, bola dan tabung.  Setelah mereka mengingat nama-nama bangun tersebut, dimulailah membentuk kelompok dengan tiap kelompok terdiri dari 6 orang anak, karena banyaknya siswa ada 32 orang.   Berdasarkan pengalaman pada siklus1, guru lebih menekankan pada siswa untuk dapat memanipulasi alat peraga lebih intensif. Siswa dipersilahkan saling memegang dan menukar bangun datar tersebut. Setelah siswa cukup memegang-megang dan meraba-raba bangun-bangun datar tersebut, guru mengambil satu per satu sambil menyebutkan nama bangun datar tadi seraya mendemonstrasikan ciri-ciri yang ada pada bangun tersebut. Misalnya, pada waktu mengambil bangun jajargenjang, dia menunjukkan cirinya bahwa segiempat tersebut mempunyai dua pasang sisi yang sejajar. Setelah itu, guru membagikan bangun ruang, seperti halnya pada bangun datar, pada bangun ruang pun, siswa diberi kesempatan untuk memegang-megang dan meraba-raba serta membanding-bandingkannya terutama bangun yang sama tetapi terbuat dari bahan yang berbeda, masing-masing  dari plastik dan dari kawat. Setelah dianggap cukup, guru mengambil satu persatu bangun ruang tersebut dan menyebutkan namanya serta saat itu pula guru menunjukkan ciri-ciri bangun yang disebutkan namanya tadi. Sewaktu siswa sudah tidak ada yang menanyakan dan mempersoalkan tentang nama dan ciri-ciri bangun sederhana, guru langsung membagikan LKS untuk dikerjakan di dalam kelompok.  Seperti pada siklus 1, pada siklus 2 juga sering terjadi perdebatan seru di dalam menentukan jawaban dari persoalan-persoalan yang ada pada LKS.  Waktu menunjukkan telah usai, sehingga guru meminta masing-masing kelompok untuk melaporkan hasil diskusinya dan sekaligus mencocokkanya. Antara kelompok satu dan yang lainnya, terkadang berbeda jawabannya, sehingga pada waktu setiap kelompok melaporkan hasilnya, tidak jarang terjadi perdebatan antar kelompok, dan itulah merupakan suatu proses pembelajaran. Namun demikian, guru mampu mengarahkan ke jawaban yang benar dan disepakati bersama. Setelah dirasa tidak ada siswa yang mempersoalkan dan menanyakan tentang soal-soal yang ada di LKS, guru meminta siswa untuk duduk pada tempat duduknya masing-masing. Soal tes akhir tindakan langsung dibagikan kepada siswa dan siswa mengerjakannya secara individual. Karena waktunya segera habis, maka pekerjaaan siswa dikoreksi guru di rumah. Hasil tes yang dicapai dari tindakan ke dua ini, rata-ratanya adalah 62 dengan skor terendah 43 dan tertinggi 86 pada rentang skor antara 0 – 100. Hasil observasi tentang pengelolaan pembelajaran oleh guru dan respon siswa terhadap pembelajaran masih belum sesuai harapan dengan indikator sebagai berikut ini.

1. Guru belum sepenuhnya mampu mengendalikan siswa dalam proses pembelajaran.
2. .Masih banyak siswa yang tidak terlibat dalam menentukan jawaban sewaktu diskusi dan menyelesaikan soal-soal pada LKS.
3. Sebagian lagi ada yang aktif tetapi tidak mediskusikan materi tentang bangun geometri sederhana.
4. Walaupun sebagian siswa sudah tertarik dan bergairah di dalam mengikuti pembelajaran, namun masih ada juga beberapa siswa yang acuh saja atau berpura-pura aktif.

Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa siswa belum bekerja sungguh sungguh dalam mengidentifikasi dan mengenali bangun geometri sederhana. Berdasarkan data hasil tes akhir tindakan, hasil obervasi baik proses pembelajaran maupun tingkah laku siswa serta dari hasil diskusi peneliti observer dan kepala sekolah, maka diambil kesimpulan bahwa masih perlu adanya perencanaan ulang untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran dan prestasi siswa.

Pada siklus 3 ini pada hakikatnya ditekankan pada materi yang belum dikuasai siswa. Bangun tersebut adalah kubus, silinder dan sebagian bangun datar segiempat, yaitu jajar genjang, layang-layang dan trapezium.  Perencanaan dan langkah-langkah pembelajaran relatif sama dengan siklus 1 dan 2. Perbedaan yang mencolok adalah pada metode pembelajarannya. Kali ini guru langsung membagikan alat peraga yang sudah pernah dikenali siswa sebelumnya. Masing-masing kelompok diminta menyebutkan nama dari tiap-tiap bangun yang dibagikannya, satu per satu. Jika nama bangun tidak sesuai dengan bendanya, baru ditawarkan ke kelompok lain  untuk membenarkannya, dan begitu seterusnya. Karena ada nuansa persaingan antarkelompok, maka masing-masing anggota kelompok tetap memperhatikan, pada waktu  kelompok lain menyebutkan nama dan menunjukkan bangun yang dimaksud. Siklus ke tiga ini guru cenderung hanya mengecek apakah siswa sudah benar-benar paham nama bangun dengan ciri-cirinya atau belum. Setelah hampir seluruh siswa diminta untuk menunjukkan bangun tertentu dengan namanya, langsung guru memberi tugas LKS, karena dirasa siswa sudah menguasai materi pengenalan bangun geometri sederhana. Setelah dicocokkan, hampir seluruh kelompok mengerjakan benar untuk setiap soal.  Setelah siswa dianggap menguasai materi, dan tidak ada lagi yang  bertanya,  serta  siswa telah menduduki tempat duduknya masing-masing ,  guru membagikan soal tes hasil belajar dengan guru meminta siswa untuk mengerjakannya secara individual, tidak diperbolehkan bekerjasama dalam bentuk apa pun. Dengan demikian, para siswa kelihatan berkonsentrasi benar dalam mengejakan tes serta mereka mematuhi perintah guru, sehingga mereka benar-benar mengerjakannya sendiri. Di samping itu, sebagian besar dari mereka sudah memahami dan menguasai materi pembelajaran, sebab hanya merupakan materi ulangan.   Sebelum waktu tes yang disediakan usai, sebagian besar dari mereka telah selesai mengerjakannya, sehingga guru berhasil mengumpulkan pekerjaan siswa 5 menit sebelum waktu yang telah ditentukan. Segera guru menutup pelajaran sambil memotivasi siswa supaya tetap belajar dan berlatih dengan lebih tekun.  Sehari berikutnya, peneliti, guru kelas sebagai pelaksana pembelajaran, serta guru jaga sebagai pengamat  sepakat untuk mengadakan pertemuan guna membahas pelaksanaan pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. Masing-masing diharapkan menyiapkan data yang telah terkumpul baik data kuantitatif yang berupa hasil tes  maupun data kualitatif yang merupakan hasil pengamatan dari para pengamat.

Dari hasil tes, observasi dan wawancara secara insidental, serta diskusi antara peneliti, kepala sekolah, guru pelaksana pembelajaran serta guru jaga, maka dapat disimpulkan hal-hal seperti berikut ini.

1. Hasil tes akhir sudah menunjukkan rata-rata  sesuai dengan yang diharapkan, yaitu dengan rata-rata skor  71,  pada rentang skor antara 0 – 100.
2. Hampir semua siswa pada kelompoknya masing-masing, sudah aktif berdiskusi tentang materi bangun datar segitiga dan segiempat serta bangun ruang sederhana.
3. Karena secara tidak langsung mereka dapat saling menerima dan memberi (take and gave) informasi dan pengetahuan, mereka sangat semangat dan antusias dalam berdiskusi.
4. Mereka merasa senang mampu menyebutkan nama bangun geometri tertentu yang diikuti dengan  ciri-cirinya serta mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari.
5. Guru sudah kelihatan mantap dalam  mengelola dan mengendalikan jalannya pembelajaran.
Dengan pertimbangan data yang tersedia dan hasil diskusi antara peneliti, kepala sekolah dan guru jaga,  diputuskan bahwa tidak perlu lagi diadakan  perencanaan dan tindakan lanjutan.



Pembahasan

Sebelum melaksanakan pembelajaran sebagai wujud penelitian tindakan, diadakan tes awal untuk mengetahui kemampuan siswa tentang bangun-bangun geometri sederhana yang telah mereka pernah pelajari. Dari hasil tes awal ini diperoleh informasi bahwa siswa belum menguasai materi (belum benar-benar mengenal) nama-nama dan ciri-ciri dari masing-masing  bangun geometri sederhana.  Rata-rata hasil tes awal itu hanya 43, pada rentang skor antara 0-100.   Kurangnya pemahaman siswa terhadap materi bangun geometri sederhana ini, diduga kuat disebabkan oleh proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini. Seperti telah terditeksi oleh peneliti sebelumnya, proses pembelajaran selama ini adalah mengunakan system komando, di mana siswa kurang diberi kesempatan untuk mengenali sendiri ciri-ciri bangun yang dipelajari, dan mereka lebih banyak disuruh menghafal.  Pembelajaran yang hanya dengan menghafal pada bidang studi matematika tidak akan tertanam pada memory siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Ausubel (Bell, 1978: 131) bahwa belajar hanya dengan menerima informasi tidak akan melibatkan mental siswa dalam berpikir dan tidak akan melahirkan penemuan. Siswa seharusnya dilibatkan untuk menginternalisasikan materi ke dalam struktur kognitifnya, sehingga suatu saat dapat mengungkapkan kembali dan menggunakannya. Jika hanya melalui hafalan, siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh ke dalam struktur kognitifnya, sehingga informasi ini tidak dapat diendapkan dan hanya mengingat fakta-fakta yang sederhana ( Ausubel dalam Hudojo, 1988: 62).

Pada siklus 1 , langkah-langkah pembelajaran belum sesuai dengan rencana pembelajaran, di samping guru belum terampil dalam penyampaian pembelajaran, guru juga belum mampu memotivasi siswa dalam mengenal dan memberi nama sesuai dengan ciri-ciri bangun yang dimaksud. Pelaksanaan diskusi belum berjalan sesuai dengan harapan, sebab siswa belum termotivasi dengan baik. Jika siswa termotivasi untuk menguasai ciri-ciri bangun geometri sederhana beserta namanya, siswa akan memusatkan perhatiannya terhadap aspek yang relevan dalam pembelajaran. (Dahar, 1996: 174).

Pelaksanaan siklus ke dua sudah lebih bagus disbanding sikluis 1, walaupun masih juga ada siswa yang tidak berpartisipasi aktif di dalam pembelajaran serta tidak tahu yang harus diperbuat. Walaupun masih ada beberapa siswa yang berbincang-bincang dan bersenda gurau, namun  secara keseluruhan pembelajaran sudah berjalan lebih baik. Hal tersebut karena siswa sudah memahami apa yang harus dikerjakan agar mereka dapat menguasai materi pembelajaran.  Hasil tes akhir pun sudah menunjukkan peningkatan yang cukup siginifikan.

Pada siklus III, pelaksanaan kegiatan pembelajaran sudah sesuai dengan rencana. Hal ini disebabkan selain merupakan pengulangan pembelajaran, guru juga sudah benar-benar mengerti bagaimana ia bertindak sebagai perwujudan pelaksanaan  pembelajaran dengan  peragaan benda konkret.. Pada siklus ini, semua materi tak terkecuali bangun datar segiempat, dan  bangun ruang silinder serta kubus sudah tidak lagi menjadi persoalan bagi tiap-tiap kelompok. Diskusi kelompok juga  cukup hidup, walaupun siswa yang termasuk kategori kurang, tetap menangkap ciri-ciri bangun dan sekaligus namanya yang diperoleh dari temannya sendiri. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Vigotsky (Nur, 1998:7), bawa unsur kunci perubahan kognitif adalah penekanan pada hakikat sosial dalam belajar dan penguasaan kelompok sejawat untuk memodelkan cara berpikir yang sesuai dan saling mengemukakan serta menantang miskonsepsi di antara mereka sendiri.

Pembelajaran guru yang dimulai dari benda konkret ( benda sesungguhnya), menuju ke gambar (semi konkret) dan baru ke abstrak (menggunakan simbol ) sudah memenuhi asas belajar dari dari Bruner ( Orton, 1992: 49), yaitu  inactive, iconic, symbolic.  


Kesimpulan 

Dari data yang terpapar, temuan penelitian yang telah terurai dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan seperti berikut ini.
1. Pembelajaran pengenalan bangun geometri sederhana dengan peragaan benda konkret mampu meningkatkan pemahaman dan sekaligus prestasi siswa tentang pengetahuan bangun geometri sederhana.
2. Pembelajaran pengenalan bangun geometri sederhana  di SDN Jelaban Sentolo ini memiliki karakteristik  seperti berikut ini.

Peneliti, bersama-sama guru kelas sebagai pelaksana pembelajaran menyediakan berbagai alat peraga untuk membantu siswa dalam mengenal bangun geometri sederhana. Siswa dibentuk di dalam kelompok-kelompok diskusi. Setiap kelompok terdiri dari berbagai macam kemampuan. Setiap kali siswa belum mampu memahami ciri bangun geometri tertentu guru berusaha menunjukkan dan menjelaskannya dengan berbagai macam cara.

Dengan metode penyajian alat peraga dalam pembelajaran yang disertai cooperatif learning di dalam kelompok, akhirnya guru berhasil membelajarkan siswa dalam mengenal bangun geometri sederhana dengan ciri-cirinya sendiri  yang diikuti namanya.
Walaupun pada awal pembelajaran (siklus I) siswa dalam kelompok masih ada yang berdiskusi tentang permainan, sepak bola dan sebagainya, namun pada siklus II, membaik dan pada siklus III, mereka sudah serius berdiskusi tentang materi pembelajaran dan tidak ada lagi di antara mereka yang hanya bengong, melamun dengan tatapan kosong. Siswa merasa senang dan bergairah dalam mengikuti pembelajaran dengan penggunaan alat peraga.


Saran

1. Mengingat pembelajaran pengenalan geometri sederhana dapat dijelaskan dengan peragaan yang menghasilkan kualitas yang memuaskan, maka model pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran.
2. Model pembelajaran ini diperlukan guru yang inovatif dan kreatif dan guru yang telah melaksanakannya perlu mengimbaskan kepada guru lain.



Daftar Pustaka

Bell, F. H (1978). Teaching and Learning Mathematics in Secondary Schools. An Introduction to theory and Methods. Second Edition. Boston: Allyn and Bacond.
Bower, G.H & Hilgard. (1975). Theories of Leraning. New York.  Mc. Graw. Hill.
Dahar, R.W.1996. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Hudojo, H. (1988). Pembelajaran Matematika menurut Pandangan Konstruktivistik. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika, Malang: PROGRAM PASCASARJANA IKIP Malang.
Hudojo, H. (1998). Pembelajaran Matematika Menurut Pandangan Konstruktivistik. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional. Pendidikan Matematika Malang: PROGRAM PASCASARJANA IKIP MALANG.
Kemmis, S & Taggart, R. (1990). The Action Reseacrh Planner. Deakin University.
Biodata
P. Sarjiman, lahir di Sleman tahun 1954,  lulus Sarjana  (1980) pada jurusan Bahasa Inggris dari FKSS IKIP Yogyakarta. Tahun 1995, ia lulus Sarjana Pendidikan Matematika dari IKIP Malang dan tahun 1999 memperoleh  Magister Pendidikan pada program studi PEP dari IKIP Yogyakarta. Pada tahun 2005, ia memperoleh  Magister Pendidikan Matematika SD dari Universitas Negeri Malang.