Sunday, September 1, 2013

Pengaruh Pendekatan Pembelajaran dan Sikap pada Matematika terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Pantai Cermin

Pengaruh Pendekatan Pembelajaran dan Sikap pada Matematika terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Pantai Cermin



Oleh Dra. Hilda Ekayani Lubis

Abstract



The objectives of this study are to investigate whether the students is higher than those students which are taught by using Realistic Learning Approach is higher than using KTSP learning approach, to find out whether the learning achievement of math of the student with high attitude to mathematical is higher than of the students with  low attitude to mathematical, to find out the interaction between the learning approaches and students’ mathematis attitude with math learning achievement.The population in this study is the students of senior High School SMK  in Pantai Cermin in the XI semester, while the sample of this study was four classes of the XI semester which were taken by cluster random sampling. The method of this research was quasy-experiment with 2 x 2 factorial design ; the data were analysed by means of statistical analysis by applying 2 x 2 Anava. The instrument in collecting data of learning achievement was a multiple-choice tes that consisted of 40 items with reliability of  0.867. In Collecting data of mathematical attitude a 30 items test adopted from Rotter was administrated to the students. Before data analyzed used at first tested by analysis rules in normality and homogenity of data. Normality test was using Liliefors test while Homogenity was tested using Bartlett test. The data was analyzed using two ways Anava with α = 0.05 and then using Tukey.The results of the sutdy were: (1) the mean of the learning achievement of the students who were taught by using realistic approach was   = 31.54 higher than those who were taught by using  KTSP learning approach     = 30.24 with F observe = 72.09 > F table = 4.00, (2) the mean of the student with high mathematical attitude was  = 33.72 higher than those with low mathematical attitude  = 28.78 with F observe = 4.17 > F table = 4.00, and there was an interaction between learning approaches and mathematical attitude with math learning achievement with F observe = 14.97  > F table = 4.00. Based on the result of the study, it is concluded that for the students with high  mathematical attitude, realistic learning approach is appropriate, and for those with low mathematical attitude, KTSP learning approach is approriate. The implication of the study is specialized to Math taechers in order that in applying learning approach, they consider the students characteristic (especially mathematical attitude).


A. Pendahuluan

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dari proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Namun untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah, ada banyak masalah yang dihadapi. Salah satu masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan.
Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan matematika di Indonesia. Namun demikian, sampai saat ini hasilnya belum menggembirakan, kalau tidak mau dikatakan menyedihkan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai indikator hasil belajar, antara lain dalam Ujian Nasional (UN), temuan sejumlah penelitian, dan kontes internasional matematika seperti yang dilaporkan oleh The Third International Mathematics and Science Study,  Bansu (2009: 1). Menurut Niss  yang dikutip oleh Hadi (2005: 3) salah satu alasan utama diberikan matematika kepada siswa-siswa di sekolah adalah untuk memberikan kepada setiap individu pengetahuan yang dapat membantu mereka untuk mengatasi berbagai hal dalam kehidupan, seperti pendidikan atau pekerjaan, kehidupan pribadi, kehidupan social, dan kehidupan sebagai warga negara.
Menurut Galilei yang dikutip Sriyanto (2007: 3) alam semesta itu bagaikan sebuah buku raksasa yang hanya bisa dibaca jika orang mengerti bahasanya, akrab dengan lambang dan huruf yang dipakai di dalamnya, dan bahasa alam semesta itu tidak lain adalah matematika. Namun matematika sering dianggap sebagai momok yang menakutkan oleh sebagian besar siswa karena matematika cenderung dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Sebagian besar siswa menunjukkan hasil yang kurang memuaskan dalam prestasi belajar matematika dan mengakibatkan sikap siswa terhadap matematika itu beragam. Siswa yang memiliki kemampuan dibidang matematika akan tertarik mempelajarinya, sedangkan yang kurang kemampuannya mengakibatkan rasa pesimis dan tidak tertarik. Padahal sudah tidak disangsikan lagi bahwa matematika memegang peranan yang cukup penting dalam kehidupan manusia.
Rendahnya hasil belajar matematika tentu banyak faktor yang mempengaruhinya. Namun secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Salah satu faktor eksternal adalah pendekatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru, guru matematika mungkin perlu melakukan introspeksi terhadap cara mengajarnya. Karena kadang-kadang kebencian siswa terhadap matematika tidak pada matematika itu sendiri, tetapi pada cara mengajar di kelas. Agar kita bisa mengajar matematika dengan baik dan menyenangkan, mungkin kita perlu belajar bagaimana mencintai matematika. Sedangkan yang merupakan faktor internal diantaranya adalah motivasi berprestasi siswa.  Faktor luar misalnya peranan guru, ingin mendapat manfaat praktis dari pelajaran, ingin mendapat penghargaan dari teman terutama dari guru, ingin mendapat nilai yang baik sebagai bukti “mampu berbuat”. Sedangkan faktor luar mencakup lingkungan sosial yang membangun dalam kelompok, lingkungan fisik yang memberi suasana nyaman, tekanan, kompetesi, termasuk fasilitas belajar yang memadai, membangkitkan minat, motivasi berprestasi dan sebagainya.
Pendekatan pembelajaran yang dipilih hendaknya sesuai dengan metode, media dan sumber belajar lainnya yang dianggap relevan dalam menyampaikan informasi, dan membimbing siswa agar terlibat secara optimal, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman belajar dalam rangka menumbuhkembangkan kemampuannya, seperti : mental, emosional, dan sosial serta keterampilan atau kognitif, afektif, dan psikomotor. Dengan demikian pemilihan pendekatan pembelajaran yang sesuai dapat membangkitkan dan mendorong timbulnya aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran tertentu. Setiap satuan pendidikan berhak mempergunakan pendekatan pembelajaran yang sengaja dipilih untuk meningkatkan prestasi siswa.
Untuk memperoleh hasil belajar yang diharapkan dibutuhkan suatu pendekatan pembelajaran yang mampu untuk lebih memberdayakan siswa dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini, penulis memilih pendekatan pembelajaran realistik sebagai pilihan dalam penelitian ini. Pendekatan pembelajaran realistik menekankan pentingnya konteks nyata yang dikenal siswa dan proses kontruksi pengetahuan matematika oleh siswa sendiri. Pendekatan pembelajaran matematika realistik merupakan suatu pendekatan yang menjanjikan dalam pembelajaran matematika. Berbagai literatur menyebutkan bahwa pembelajaran matematika realistik berpotensi meningkatkan pemahaman matematika siswa. Dalam pembelajaran matematika realistik siswa tidak dipandang sebagai botol kosong yang harus diisi dengan air. Sebaliknya siswa dipandang sebagai human being yang memiliki seperangkat pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungannya. Selanjutnya, siswa juga memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuan tersebut bagi dirinya. Di dalam pembelajaran matematika diakui bahwa siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan pemahaman matematika apabila diberikan ruang dan kesempatan untuk itu. Siswa dapat merekonstruksi kembali temuan-temuan dalam bidang matematika melalui kegiatan dan eksplorasi berbagai permasalahan, baik permasalahan dalam kehidupan sehari-hari (daily life problems) maupun permasalahan di dalam matematika sendiri (mathematical problems).
Hadi (2005: 38) mengatakan bahwa Pembelajaran Matematika Realistik  mempunyai konsepsi tentang siswa sebagai berikut : 1) siswa memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya, 2) siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri, 3) pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan kembali, dan penolakan, 4) pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman, dan 5) setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematik.
Paradigma baru pendidikan menyarankan pembelajaran aktif (active learning). Sebagaimana peribahasa China yang menyatakan : “Saya dengar, maka saya lupa; saya lihat, maka saya ingat; saya lakukan, maka saya mengerti “. Dalam hal ini guru harus menghindari memberikan ceramah, tetapi harus mampu menciptakan dan mengembangkan pengalaman belajar yang mendorong aktivitas siswa. Bahkan di dalam Pembelajaran Matematika Realistik diharapkan siswa tidak sekedar aktif (sendiri), tetapi ada aktivitas bersama diantara mereka. Negeri Belanda adalah pionir dalam PMR, terutama berdasarkan hasil penelitian dan karya Institut Freudenthal. Kemudian di Amerika Serikat sejumlah sekolah mulai menggunakan materi kurikulum Pembelajaran Matematika Realistik yang dikembangkan atas kerja sama antara University of Wisconsin dan Institut Freudenthal melalui proyek yang disebut MiC (Mathematics in Context).
Menurut Gravemeijer yang dikutip oleh Hadi (2005: 9), salah satu sebab mengapa pembelajaran matematika realistik diterima di banyak negara adalah karena konsep PMR itu sendiri. Berdasarkan pemikiran Hans Freudenthal, dalam PMR matematika dianggap sebagai aktivitas insani (mathematics as human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Menurut filsafat PMR siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali (to reinvent) matematika di bawah bimbingan guru, dan penemuan kembali ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari penjelajahan berbagai persoalan dan situasi dunia nyata, (Hadi, 2005: 9). Selanjutnya, di dalam PMR proses belajar memainkan peranan yang penting. Menurut Gravemeijer yang dikutip oleh Hadi (2005: 10), rute belajar (learning route), di mana siswa dapat menemukan hasil berdasarkan usaha mereka sendiri, harus dipetakan. Dengan demikian, dalam PMR guru harus mengembangkan pengajaran yang interaktif dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif berpartisipasi dalam proses belajar mereka sendiri.
Perbaikan proses pembelajaran di kelas dapat dititikberatkan pada aspek kegiatan belajar mengajar. Aspek ini terkait langsung dengan tanggung jawab guru dalam membina subjek didik menjadi lebih termotivasi untuk belajar sekalipun dengan dukungan yang minimal dari guru tanpa perlu diceramahi. Konsep ini berasal dari acuan bahwa tidak ada siswa yang bodoh, dan pengalaman membuktikan bahwa keterbelakangan hanya terjadi jika subjek tersebut malas bekerja.  Disamping pendekatan pembelajaran, Merril (1979) berpendapat bahwa karakteristik siswa merupakan kondisi pengajaran yang harus dijadikan pijakan dalam mengembangkan dan menetapkan pendekatan pembelajaran untuk memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Lebih lanjut Dick & Carey (2005) mengatakan bahwa seorang guru hendaknya mampu untuk mengenal dan mengatahui karakteristik siswa, sebab pemahaman yang baik terhadap karakteristik siswa akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar siswa, karena jika seorang guru dapat mengetahui karakteristik siswanya, maka selanjutnya guru dapat menyesuaikan dengan pendekatan pembelajaran yang digunakan.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini  dilakukan di SMK Negeri 1 Pantai Cermin, Jalan Menang No. 1 Pantai Cermin pada semester genap tahun ajaran 2009/2010, dalam rentang waktu 10 (sepuluh) kali pertemuan dihitung mulai dari pemberian tes awal dan tes akhir pembelajaran yang berlangsung selama 2 bulan terhitung mulai Maret – Mei 2010. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik sampel kelompok secara acak (cluster random sampling) yakni dari 5 kelas dipilih 2 kelas sebagai sampel yang dikenakan perlakuan melalui pemilihan secara acak. Untuk menentukan jenis perlakuan pada setiap kelas dilakukan secara undian dan hasilnya diperoleh kelas XI Adm Perkantoran 2 (35 orang) menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik dan kelas XI Adm Perkantoran 1 (35 orang) menggunakan pendekatan dalam KTSP, maka jumlah sampel penelitian adalah 70 orang.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu (kuasi eksperimen) dengan desain faktorial 2 x 2. Melalui desain ini akan dibandingkan pengaruh pendekatan pembelajaran matematika realistik dan  KTSP terhadap hasil belajar matematika. Pendekatan pembelajaran matematika realistik dan  KTSP diperlakukan kepada kelompok eksperimen siswa dengan sikap matematika yang berbeda. Pendekatan pembelajaran matematika sebagai variabel  bebas, perbedaan sikap terhadap pelajaran matematitika sebagai variabel moderator dan perolehan hasil belajar dalam mata diklat matematika sebagai variabel terikat.
Sebelum dilaksanakan perlakuan terlebih dahulu ditinjau faktor-faktor kesamaan dari kedua kelompok eksperimen yaitu kesamaan dalam faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk meyakinkan kedua kelompok eksperimen mempunyai karakteristik yang dianggap sama, kecuali faktor perlakuan pendekatan pembelajaran. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan pembelajaran antara lain faktor  tujuan pembelajaran, guru, situasi, kondisi kelas dan metode pembelajaran. Dalam penelitian ini tujuan yang akan dicapai kedua kelas eksperimen adalah yang sesuai dengan yang dirumuskan dengan kurikulum 2006 mata pelajaran matematika.
(1)
Pada pelaksanaan perlakuan, di dalam memberikan pembelajaran tidak dibedakan antara kelompok siswa yang memiliki sikap terhadap matematika tinggi dan sikap terhadap matematika rendah. Pengelompokannya hanya dilakukan pada analisis data. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik statistik deskriptif dan Inferensial. Teknik statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data, antara lain : nilai rata-rata (mean), median, modus, standard deviasi  dan kecenderungan data. Teknik statistik inferensial  digunakan untuk menguji hipotesis penelitian, dimana teknik inferensial yang akan digunakan adalah teknik Analisis Varians (ANAVA) dua jalur (desain faktorial 2 x 2) dengan taraf signifikan 0,05 (Usman,2006: 158). Sebelum anava dua jalur dilakukan, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas menggunakan Uji Liliefors, dan untuk uji persyaratan homogenitas menggunakan Uji Bartlett.

C.  Hasil Penelitian Dan Pembahasan

a. Hasil Penelitian

Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis varians faktorial 2 x 2. Rangkuman hasil perhitungan Anava dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel. 1. Rangkuman Anava Faktorial 2 x 2
Berdasarkan rangkuman di atas maka akan dirinci pengujian hipotesis sebagai berikut:

  1. 1.      Hipotesis Pertama

Pengujian hipotesis pertama yang berbunyi: hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran realistik lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan pendekatan dalam  KTSP. Hipotesis statistiknya adalah:

Ho1 : µA1 = µA2
Ha1 : µA1 > µA2

Hasil Anava menunjukkan diantara kedua rata-rata tersebut terdapat perbedaan yang signifikan pada p < 0,05 karena Fhitung = 72,09 sedangkan Ftabel = 4,00.  Berdasarkan perhitungan Anava diperoleh Fhitung = 72,09 sedangkan nilai Ftabel = 4,00 untuk dk (1,60) dan taraf nyata α = 0,05, ternyata Fhitung = 72,09 > Ftabel = 4,00 sehingga pengujian hipotesis menolak Ho. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pendekatan dalam  KTSP.

  1. 2.      Hipotesis Kedua

Pengujian hipotesis kedua yaitu : hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematika tinggi lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang memiliki sikap matematika rendah. Hipotesis statistiknya adalah:

Ho2 : µB1 = µB2
Ha2  : µB1 > µB2

Hasil Anava menunjukkan bahwa diantara kedua rata-rata tersebut terdapat perbedaan yang signifikan pada p = 0,05 karena Fhitung = 4,17 lebih besar dari Ftabel = 4,00, sehingga pengujian hipotesis menolak Ho. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematika tinggi lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematika rendah

  1. 3.      Hipotesis Ketiga

Pengujian hipotesis ketiga yaitu: terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan sikap terhadap matematika dalam mempengaruhi hasil belajar matematika. Hipotesis statistiknya adalah:

Ho3 : A X B = 0
Ha3 : A X B ≠ 0

Berdasarkan perhitungan Anava diperoleh Fhitung = 14,97, sedangkan nilai Ftabel = 4,00 untuk dk (1,60) dan taraf nyata α = 0,05, ternyata Fhitung = 14,97 > Ftabel = 4,00 sehingga pengujian hipotesis menolak Ho. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat interaksi anatara pendekatan pembelajaran dan sikap terhadap matematika dalam mempengaruhi hasil belajar matematika dapat diterima dan terbukti secara empirik.  Untuk mengetahui perbedaan antara pendekatan pembelajaran dan sikap terhadap matematika terhadap hasil belajar matematika, maka dilakukan uji lanjut dengan Uji Tukey karena jumlah sampel sama ( n sama ). Rangkuman perhitungan Uji Tukey adalah sebagai berikut.

Tabel.2. Rangkuman Uji Tukey

Secara keseluruhan hasil Uji Tukey menunjukkan dari enam kombinasi perbandingan rata-rata hasil belajar matematika, maka berdasarkan Tabel 21. terdapat satu dari enam kombinasi yang dibandingkan menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Namun demikian terdapat interaksi pendekatan pembelajaran yang memiliki sikap matematika terhadap hasil belajar matematika, hal ini terlihat dari: (a) pendekatan pembelajaran matematika realistik memberikan hasil belajar yang lebih tinggi pada siswa yang memiliki sikap matematika tinggi daripada siswa yang memiliki sikap matematika rendah, dan (b) pendekatan dalam  KTSP memberikan hasil belajar yang lebih tinggi pada siswa yang memiliki sikap matematika tinggi daripada siswa yang memiliki sikap matematika rendah, juga terbukti. Hal ini diketahui dari rata-rata skor siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan matematika realistik pada siswa yang memiliki sikap matematika tinggi ( = 35,50 ) lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang memiliki sikap matematika rendah ( = 26,88 ) dan rata-rata skor siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan dalam  KTSP pada siswa yang memiliki sikap matematika tinggi ( = 32,13 ) lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang memiliki sikap matematika rendah ( = 29,25 ).
Hasil pengujian uji lanjut di atas, menunjukkan adanya interaksi antara pendekatan pembelajaran dan sikap matematika terhadap hasil belajar matematika Siswa SMK Negeri 1 Pantai Cermin .

b.  Pembahasan Hasil Penelitian

  1. 1.      Perbedaan Hasil Belajar Matematika Antara Siswa Yang Diajar Dengan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Dan Siswa Yang Diajar Dengan Pendekatan Pembelajaran Dalam  KTSP

Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan dalam  KTSP. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Becher dan Seller yang dikutip Hadi (2005) penerapan pembelajaran realistik menghasilkan prestasi akademik yang lebih tinggi untuk seluruh siswa, kemampuan lebih baik untuk mengeluarkan ide dan diharapkan untuk sharing ide-idenya artinya mereka bebas mengkomunikasikan idenya satu sama lain. Demikian juga dengan penelitian Hadi (2005) yang menyatakan bahwa siswa senang pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik.
Lain halnya dengan pendekatan dalam KTSP. Pendekatan dalam  KTSP harus terlebih dahulu diorganisasikan sedemikian rupa yang dimulai dari menyampaikan tujuan dan memotivasi, menyajikan informasi serta mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar. Selain itu proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan dalam  KTSP materi pelajaran matematika kurang dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pendekatan pembelajaran matematika realistik lebih baik digunakan dalam pembelajaran matematika daripada pendekatan dalam  KTSP.

  1. 2.      Perbedaan Hasil Belajar Matematika Antara Siswa Dengan Sikap Matematika Tinggi Dan Siswa Dengan Sikap  Matematika Rendah

Hasil belajar siswa yang memiliki sikap matematika tinggi lebih baik dibandingkan dengan sikap  matematika rendah karena siswa yang memiliki sikap   matematika tinggi mampu menggunakan konsep dalam menganalisis suatu informasi yang diterima. Siswa dengan sikap matematika tinggi mampu belajar sendiri dan selalu ingin mengetahui sebab-sebab dari suatu persoalan atau masalah. Sedangkan siswa yang memiliki sikap matematika rendah sangat tergantung dengan petunjuk atau prosedur yang lengkap dan teratur dalam menemukan dan memecahkan masalah dalam belajar matematika. Dengan kata lain siswa yang memiliki sikap matematika rendah tidak siap kalau belajar menemukan sendiri, cenderung suka belajar berkelompok.
Menurut Rensis Likert yang dikutip Saefuddin (2008), sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Sikap merupakan salah satu faktor yang menentukan bentuk perilaku. Sikap siswa terhadap matematika dapat berupa sikap positif yang dapat membantu siswa untuk menghargai mata pelajaran matematika dan membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri terhadap kemampuan dirinya, sedangkan sikap negatif tidak dapat membantu siswa untuk menghargai mata pelajaran matematika dan tidak dapat membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri terhadap kemampuan dirinya. Pembelajaran peluang selama ini sangat bertentangan dengan prinsip belajar matematika, dimana mengharuskan siswa mempelajari matematika dengan pemahaman. Hal ini karena matematika bersifat hirarkis, yaitu materi matematika itu tersusun rapi, ada urutan-urutannya mulai yang rendah ke tinggi atau dari yang tinggi ke yang rendah. Hal ini yang membedakan matematika dengan ilmu lain karena pengertian/konsep atau pernyataan/sifat matematika terjaga konsistennya. Implikasinya pemahaman pada suatu konsep akan mempengaruhi pemahaman pada konsep berikutnya yang berkaitan. Pemahaman dikatakan terjadi jika pengetahuan yang ada dalam otak menjadi satuan-satuan yang terkoneksi satu dengan yang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Andersen, J.R., et al (2000) bahwa pengetahuan dibangun melalui konstruksi pengetahuan di otak siswa sehingga terbentuk hubungan dan saling keterkaitan antara materi. Hal ini sesuai dengan teori belajar konstruktivisme yang diharapkan dalam KTSP.
Berdasarkan uraian di atas tampak penyebab perbedaan dan hasil belajar matematika antara siswa yang memiliki sikap matematika tinggi dan siswa yang memiliki sikap  matematika rendah.

  1. 3.      Interaksi Antara Pendekatan Pembelajaran Dengan Sikap Terhadap Matematika Dalam Mempengaruhi Hasil Belajar Matematika

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis ketiga, ternyata ada interaksi antara Pendekatan Pembelajaran dan Sikap terhadap matematika dalam mempengharuhi hasil belajar matematika. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Pendekatan pembelajaran matematika realistik memberikan pengaruh lebih tinggi terhadap hasil belajar matematika bila digunakan kepada kelompok siswa yang memiliki sikap matematika tinggi dibandingkan bila digunakan pada kelompok siswa yang memiliki sikap matematika rendah.  Hal ini dapat terjadi karena pendekatan pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Fredeunthal yang menjelaskan bahwa matematika dipandang sebagai aktivitas manusia. Pendekatan pembelajaran realistik sangat berpusat pada kemampuan siswa dalam menemukan jawaban dari suatu persoalan yang ada dilingkungannya dalam pelajaran matematika dan menekankan pada langkah-langkah berpikir mulai dari mengamati sampai kepada mendeskripsikan dan melaporkan hasil perolehannya untuk mencapai penyelesaian. Situasi pembelajaran yang demikian memberikan pengaruh yang lebih tinggi terhadap hasil belajar matematika pada kelompok siswa yang memiliki sikap  matematika tinggi dibanding dengan siswa yang memiliki sikap matematika rendah.
Hasil analisis data penelitian ini menunjukkan, bahwa hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematika tinggi dan dibelajarkan dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik  lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang memiliki sikap matematika rendah dan dibelajarkan dengan pendekatan dalam  KTSP. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Becher dan Seller (Hadi, 2005) data menunjukkan pembelajaran realistik telah telah terbukti merangsang penalaran dan kegiatan berpikir siswa. Pendekatan pembelajaran matematika realistik sangat memungkinkan merangsang penalaran dan kegiatan berpikir karena permasalahan dalam matematika dipandang sebagai aktivitas manusia. Pemanfaatan lingkungan yang dipahami siswa dalam belajar memungkinkan siswa lebih tertarik untuk mempelajarinya yang akhirnya berpengaruh positif terhadap hasil belajarnya.
Hasil temuan ini menunjukkan bahwa untuk mengajarkan materi matematika khusus pokok bahasan Peluang untuk kelas XI SMK lebih baik menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik daripada dengan pendekatan dalam  KTSP. Hal ini didukung oleh penelitian Saragih (2007) menyimpulkan bahwa siswa yang memperoleh pembelajaran berdasarkan pendekatan pembelajaran matematika realistik mempunyai hasil belajar yang labih baik dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran berdasarkan pendekatan dalam  KTSP.
Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pendekatan pembelajaran dan sikap terhadap matemati cukup signifikan mempengaruhi hasil belajar matematika siswa.

D. Simpulan, Implikasi Dan Saran

  1. a.      Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan di bawah ini:
Pertama,  pendekatan pembelajaran realistik dan pendekatan pembelajaran dalam  KTSP memberi pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar matematika. Pendekatan pembelajaran realistik memberikan pengaruh yang lebih tinggi terhadap hasil belajar matematika dibandingkan dengan penggunaan pendekatan pembelajaran dalam KTSP. Maka penggunaan pembelajaran realistik lebih efektif digunakan daripada pendekatan pembelajaran dalam  KTSP dalam meningkatkan hasil belajar matematika.
Kedua, sikap matematika tinggi dan sikap matematika rendah memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar matematika siswa. Hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematika tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki sikap matematika rendah.
Ketiga, hasil perhitungan analisis varians menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran realistik dengan sikap terhadap matematika, dimana siswa yang memiliki sikap matematika tinggi lebih baik diajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran realistik dibandingkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran dalam  KTSP, sedangkan siswa yang memiliki sikap matematika rendah lebih baik diajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran dalam KTSP dibandingkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran realistik.

  1. b.      Implikasi
Dari hasil simpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, dapat diketahui  bahwa pendekatan pembelajaran realistik ternyata lebih efektif digunakan dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMK dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran dalam KTSP. Pada pendekatan pembelajaran realistik guru sebagai fasilitator, artinya guru dapat diharapkan menyediakan bermacam-macam masalah kontekstual tentang materi untuk mendorong siswa menemukan konsep atau prosedur yang termuat didalamnya, sedangkan siswa mengurangi ketergantungan aktivitasnya dalam menyelesaikan soal. Pembelajaran cenderung berpusat pada siswa, melalui pembelajaran matematika realistik siswa memiliki kebebasan dalam menentukan cara untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Pembelajaran matematika realistik dapat meningkatkan hasil belajar matematika karena : 1) penggunaan masalah-masalah kontekstual, 2) mengaitkan sesama topik  dalam matematika, 3) penggunaan metode interaktif dalam pembelajaran matematika, dan 4) penghargaan setiap jawaban. Pembelajaran matematika dalam KTSP, penyampaian materi tidak masalah kontekstual yang ada disekitar siswa, sehingga siswa sulit membayangkan masalah yang mereka hadapi. Pada pendekatan pembelajaran dalam  KTSP fase-fgase yang dilakukan guru adalah: 1) menyajikan tujuan dan memotivasi siswa, 2) menyajikan informasi yang akan dipecahkan siswa, 3) mengorganisasikan dan membimbing dalam kelompok-kelompok belajar, dan 4) melakukan evaluasi dan memberi penghargaan.
Berdasarkan hasil penelitian ini, ternyata peranan sikap terhadap matematika sangat berpengaruh dalam peningkatan hasil belajar. Akan tetapi hasil belajar yang diperoleh tidak merata, ini disebabkan kelas siswa yang diajar memiliki dua sikap pada matematika, yaitu sikap matematika tinggi dan sikap matematika rendah. Oleh karena itu guru harus dapat menumbuhkan sikap terhaqdap matematika dalam pembelajaran matematika dengan cara: 1) memberi rangsangan dalam pembelajaran matematika, 2) pendekatan pembelajaran yang bervariasi, 3) penggunaan bermacam-macam buku pelajaran, dan 4) suasana belajar yang kondusif.
Siswa dengan sikap matematika tinggi, tidak akan pernah berhenti berusaha untuk menemukan jawaban. Dengan demikian maka siswa yang selalu melatih dirinya secara terus menerus akan dapat menemukan prosedur kerja yang sistematis yang pada gilirannya siswa akan terbiasa dan berlatih untuk memecahkan masalah-masalah. Dengan demikian konsekuensinya apabila siswa dengan sikap matematika rendah tentu akan rendah pula pencapaian hasil belajar matematika, sebaliknya siswa dengan sikap matematika tinggi maka tingkat pencapaian hasil belajar matematika lebih tinggi.
Konsekuensi logis dari pengaruh sikap matematika terhadap hasil belajar matematika berimplikasi kepada guru pengampu mata pelajaran matematika untuk melakukan identifikasi dan prediksi di dalam menentukan sikap matematika yang dimiliki siswa. Apabila sikap terhadap matematika siswa dapat dikelompokkan maka guru dapat menerapkan rencana-rencana pembelajaran dan pendekatan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik siswa, disamping itu juga guru dapat melakukan tindakan-tindakan lain misalnya untuk siswa yang memiliki sikap matematika tinggi diberikan materi-materi pengayaan dan soal-soal latihan dengan tingkat kesukaran yang lebih tinggi sedangkan untuk siswa dengan sikap matematika rendah diberikan materi-materi remedial yang bertujuan memberikan pemahaman dan penguasaan kepada siswa terhadap materi pelajaran. Dengan demikian siswa diharapkan mampu membangun dan menemukan sendiri pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkannya dalam menyelesaikan persoalan belajar untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Disamping itu siswa diharapkan mampu untuk meningkatkan retensinya dengan cara menemukan materi-materi penting bukan karena diberitahukan oleh orang lain (guru).
Implikasi dari perbedaan karakteristik siswa dari segi sikap matematis mengisyaratkan guru dalam memilih pendekatan pembelajaran harus mempertimbangkan sikap terhadap matematika siswa. Dengan adanya sikap terhadap matematika dalam diri siswa akan berperan terhadap reaksi positif atau negatif yang akan dilakukannya dalam merespon suatu ide, gagasan atau situasi tertentu dalam pembelajaran yang berlangsung. Oleh karena itu pendekatan pembelajaran yang diterapkan guru akan efektif atau tidak tentunya tergantung dari karakteristik siswa. Adanya perbedaan sikap terhadap matematika ini juga berimplikasi kepada guru di dalam memberikan motivasi, membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa. Bagi siswa dengan sikap matematika tinggi hal tersebut tidaklah menjadi sebuah kesulitan bagi guru dalam motivasi, membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa, tetapi bagi siswa dengan sikap matematika rendah maka guru perlu memberikan perhatian yang lebih dan kontinu di dalam memberikan motivasi, membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa. Dapatlah dimaklumi bahwa pemberian motivasi, membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa akan efektif apabila hubungan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa tercipta dan terjalin secara kondusif sebelumnya. Secara khusus bagi siswa-siswa yang berkesulitan belajar maka guru matematika dapat bekerja sama dengan guru bimbingan dan konseling (BK) untuk menanginanya.
Perbedaan sikap terhadap matematika ini juga berimplikasi kepada guru di dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Tindakan yang dapat dilakukan guru adalah dengan menerapkan konsep belajar tutorial sesama murid dimana guru mengarahkan dengan membentuk kelompok belajar atau kelompok diskusi di dalam kelas dimana siswa yang dengan sikap matematika tinggi memberikan bantuan kepada siswa dengan sikap matematika rendah, dengan demikian kegiatan pembelajaran bagi siswa dengan sikap matematika rendah dapat terbantu dalam memahami materi pelajaran.
Pembelajaran matematika realistik cukup efektif bagi siswa yang memiliki sikap matematika tinggi tetapi tidak efektif bagi siswa yang memiliki sikap matematika rendah, dikarenakan pada pembelajaran matematika realistik guru berperan sebagai fasilitator dan materi yang disajikan dalam pembelajaran memahami, menjelaskan, dan menyelesaikan masalah-masalah kontekstual yang menuntut ketekunan dan keuletan yang tinggi. Bagi siswa yang memiliki sikap matematika rendah, pembelajaran matematika dalam  KTSP cukup efektif dikarenakan pada proses pembelajaran siswa dikelompokkan dan akan menjadi tutor sebaya, sehingga siswa yang memiliki sikap matematika rendah lebih leluasa belajar kepada teman sebaya yang lebih memahami persoalan yang sedang dibahas.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi pendekatan pembelajaran dan sikap pada matematika terhadap hasil belajar. Interaksi tersebut terindikasi dari siswa dengan sikap matematika tinggi dan dibelajarkan dengan pendekatan realistik memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran dalam KTSP. Sedangkan bagi siswa dengan sikap matematika rendah yang diajar dengan pendekatan realistik tidak lebih tinggi dibandingkan yang diajar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran dalam KTSP. Dengan demikian dapat dipahami bahwap pendekatan realistik lebih tepat digunakan bagi siswa yang memiliki karakteristik sikap matematika tinggi, sedangkan pendekatan pembelajaran dalam  KTSP lebih tepat digunakan bagi siswa dengan karakteristik sikap matematika rendah.
Hasil penelilitan juga menunjukkan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar matematika dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh guru dan sikap terhadap matematika yang dimiliki siswa. Dalam hal ini antara guru dan siswa yang mempunyai peranan yang sama dan berarti dalam meningkatkan hasil belajar matematika itu sendiri, sehingga dengan demikian untuk mencapai hasil belajar yang maksimal maka kedua variabel tersebut yaitu pendekatan pembelajaran dan sikap matematis perlu menjadi perhatian sekaligus.
Selanjutnya secara khusus temuan pada penelitian ini memberikan implikasi kepada :
Pertama, Departemen Pendidikan Nasional Kabupaten Serdang Bedagai, agar melakukan pendidikan dan pelatihan pendekatan realistik terhadap guru-guru matematika karena melalui penelitian yang dilakukan ini ditemukan bahwa guru matematika yang ada di SMK Negeri 1 Pantai Cermin belum mengenal pendekatan pembelajaran realistik. Hal ini terindikasi ketika peneliti mengadakan penelitian mengenai pendekatan realistik dalam pembelajaran matematika, maka para guru bertanya seperti apa pembelajaran realistik tersebut dan bagaimana melaksanakan di kelas. Langkah lain yang dapat diterapkan dalam meningkatkan kemampuan guru terhadap penguasaan pembnelajaran realistik yang dapat dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional Kabupaten Serdang Bedagai jika alternatif  pertama yaitu melaksanakan pendidikan dan pelatihan tentang pendekatan realistik tidak dapat dilaksanakan karena mungkin keterbatasan anggaran adalah dengan memberikan bantuan berupa penyaluran buku-buku tentang pembelajaran realistik ke sekolah-sekolah agar dapat dipelajari guru-guru. Diharapkan melalui penyaluran buku-buku tersebut guru-guru dapat mempelajarinya dan mendiskusikannya secara bersama-sama di sekolah untuk kiranya dapat diterapkan dalam kegaiatan pembelajaran di kelas.
Kedua, temuan penelitian ini memberikan implikasi kepada pengawas rumpun mata pelajaran matematika yang ada di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional Kabupaten Serdang Bedagai, dimana menjadi kewajiban dan tanggung jawab seorang pengawas rumpun mata pelajaran matematika untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada guru-guru yang berada di bawah pengawasannya tentang peningkatan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan realistik dalam pembelajaran matematika karena melalui penelitian ini telah terbukti efektif untuk meningkatkan hasil belajar matematika.
Ketiga, temuan ini berimplikasi kepada penyelenggara sekolah dalam hal ini kepala sekolah. Sebagaimana diketahui bahwa penerapan pendekatan pembelajaran yang cukup memadai, untuk itu ketersediaan alat-alat atau media pembelajaran yang dipergunakan dalam pembelajaran menjadi tanggung jawab penyelenggara sekolah secara umum dan guru secara khusus. Untuk itu diharapkan penyelenggara sekolah menyediakannya atau paling tidak berupaya mengusahakannya melalui permintaan kepada instansi terkait atau bisa juga dilakukan pemenuhan alat-alat atau media pembelajaran itu dianggarkan dalam rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS).
Keempat, temuan penelitian ini  juga memberikan implikasi kepada penulis/pengarang buku matematika agar kiranya dapat menyajikan pendekatan realistik dalam penerbitan buku pada tahun-tahun yang akan datang sehingga guru dan siswa menemui variasi pendekatan pembelajaran yang berbeda dalam pembelajaran matematika.

  1. c.       Saran – Saran
Berdasarkan simpulan dan implikasi seperti yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disarankan beberapa hal berikut:
  1. Kepada pihak sekolah SMK Negeri 1 Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai, hendaknya mengadakan pelatihan guna meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran matematika relaistik kepada guru-guru bidang studi matematika, hal ini dilakukan karena belum semua guru-guru yang mengetahui pendekatan realistik.
  2. Kepada guru-guru hendaknya lebih kreatif untuk mendapatkan informasi tentang pendekatan realistik, misalnya dengan mengikuti diskusi ilmiah, seminar-seminar, mencari bahan melalui internet dan lain-lain sehingga guru tersebut dapat menyusun skenario pendekatan pembelajaran realistik.
  3. Guru sebaiknya menyajikan bermacam-macam masalah kontekstual tentang materi pembelajaran untuk dapat mendorong siswa menemukan konsep atau prosedur yang termuat didalamnya. Sedangkan siswa belajar sendiri menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapi
  4. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa yang memiliki sikap matematis tinggi, pendekatan pembelajaran matematika realistik ini sebagai salah satu alternatif yang sesuai dengan karakteristik siswa tersebut, disamping itu dengan pendekatan pembelajaran realistik ini siswa akan lebih terlatih dan terbiasa memahami dan menyelesaikan masalah-masalah kontekstual yang berada dilingkungannya demikian juga disarankan bagi guru untuk menggunakan pendekatan pembelajaran dalam  KTSP untuk membelajarkan siswa yang memiliki sikap matematis rendah agar hasil belajarnya lebih tinggi
  5. Materi pelajaran matematika hendaknya dikaitkan dengan masalah-masalah kontekstual yang ada disekitarnya, pendekatan pembelajaran realistik ini merupakan pendekatan pembelajaran yang tepat agar hasil belajar matematika siswa lebih tinggi
  6. Untuk penelitian lanjutan, pendekatan pembelajaran realistik sebaiknya dipadukan dengan pendekatan pembelajaran dalam  KTSP, sehingga dengan gabungan kedua pendekatan ini diharapkan hasil belajar matematika akan lebih baik
  7. Dinas pendidikan dapat membantu para guru khususnya guru matematika melalui orang-orang yang berkompeten dalam mengembangkan dan mendesain pendekatan pembelajaran demi meningkatkan keefektifan pembelajaran. Agar para guru dapat terangsang untuk berkreasi dan mengadakan inovasi dalam mencari serta menentukan pendekatan pembelajaran

Daftar Pustaka

Ali, Muhammad. (2008). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Angkowo,R. (2007). Optimalisasi Media Pembelajaran. Jakarta: Grasindo

Ansari, I. Bansu. (2009). Komunikasi Matematik Konsep dan Aplikasi. Banda Aceh : Yayasan Pena

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineke Cipta.

Arikunto, S. (2008). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Atmodiwirio, S. (2002). Manajemen Pelatihan. Jakarta : PT. Ardadizya Jaya.

Aunurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.

Azwar, Saifuddin. (2007). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Brannen, J. (2005). Memadu Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Samarinda: Fakultas

Tarbiyah IAIN Antasari Samarinda

Dahar,R.W. (1998). Teori-Teori Belajar. Bandung : Erlangga.

Dick,W. and Carey, L. (2005). The Systematic Design of Instruction. Florida : Harper Callins Publisher.

Djamarah, S.B. dan Zein. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Emzir. (2007).  Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Farikhin. (2007). Mari Berpikir Matematis. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Fathani, A. H. (2008).  Pembelajaran Realistik, Atasi Fobia Matematika. Online, tersedia http://husniabdillah.multiply.com/journal/item/9

Fathani, A.H. (2009). Matematika Hakikat & Logika. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Fauzi, Muhammad Amin. (2004). Metode Pemberian Tugas Pengajuan Soal (Problem Posing) dalam Pembelajaran Matematika Realistik Pokok Bahasan Pembagian Bilangan di Kelas IV SDN 060857 Medan. Jurnal Penelitian Bidang Pendidikan Volume: 11 Nomor: 2 Maret 2005 Hal. 173 – 184.

fadjar_p3g@yahoo.com & www.fadjarp3g.worpress.com.

Hadi, S. (2005). Pendidikan Matematika Realistik. Banjarmasin. Penerbit Tulip.

Haji, S. (2005). Pengaruh Pendekatan Matematika Realistik terhadap Matematika di Sekolah Dasar. Disertasi Doktor pada PPS UPI: Tidak diterbitkan.

Hamalik,O. (2008). Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta : Bumi Aksara.

Hasibuan,J.J. (2008). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Jihad, A. (2008). Pengembangan Kurikulum Matematika. Yogyakarta : Multi Pressindo.
Jurnalisme Seribu Mata BASIS. (2009). Pelajaran Matematika Yang Menakutkan. Edisi Khusus Pendidikan Matematika. Jakarta: Yayasan BP Basis.

Miarso,Y,dkk. (2007). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Prenada Media

Muhaimin,H. (2008). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Sekolah & Madrasah. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Mulyasa,H.E. (2009). Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara

Muslich, M. (2008). KTSP Dasar Pemahaman Dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.

Nasution. (1999). Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Nasution, S. (2008). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara

Nazir, Moh. (2003). Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia

Pidarta,M. (2007). Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Sadiman,A.S. (1986). Media Pendidikan. Jakarta:  RajaGrafindo Persada

Saragih, S. (2007). Mengembangkan Kemampuan Berpikir Logis dan Komunikasi Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Pendekatan Matematika Realistik.. Disertasi Doktor pada PPS UPI: Tidak diterbitkan.

Sanjaya,W. (2008). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

__________, (2008). Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

__________, (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.

Sa’ud, Saefuddin Udin. (2008). Inovasi Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Singarimbun, M. (2006). Metode Penelitian Survai. Jakarta. LP3ES

Sibuea, A.M. (1987). Hubungan Antara Sikap Mandiri, Pengetahuan Kewirausahaan dan Motivasi Berwiraswasta dengan Sikap Berwiraswasta Siswa-Siswa STM Di Kota Madya Medan. Tesis Fakultas PascaSarjana IKIP Jakarta.

Sudjana,N. (2005). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

Sudjana. (2005) Metoda Statistika. Bandung : PT. Tarsito.

Sriyanto,HJ. (2007). Strategi Sukses Menguasai Matematika. Yogyakarta : Indonesia Cerdas

Stone, R. (2009). Cara-Cara Terbaik Mengajarkan Matematika. Jakarta: Indeks

Sudijono, A. (2008). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Sugamin, Dkk. (2009). Mathematis Problem Solving in Realistic Mathematics. Jurnal Pendidikan Matematika. Volume: 2 Nomor: 1 Edisi Juni 2009 Medan Hal. 179 – 190.

Sugiyono, (2009). Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sukmadinata, N.S. (2008). Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Suparman, A.M. (2001). Desain Instruksional. Jakarta : Universitas Terbuka

Soeharto, K. (2003). Teknologi Pembelajaran. Surabaya: SIC

Suriasumantri,J,S. (2005). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Suryabrata,S. (2004). Psikologi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Tim MKPBM Matematika. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontenporer. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Triyanto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Propresif. Surabaya: Kencana Renada Media Group

Tuckman, B. W (1978). Conducting Educational Research. New York: Harcourt Brace Jovanovich.

Turmudi. (2008). Landasan Filsafat dan Teori Pembelajaran Matematika. Jakarta : Leuser Cita Pustaka.

Uno,H. B. (2008). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

, (2009). Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Usman, H. (2006). Pengantar Statistika. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Remaja Rosdakarya.

Winkel.W.S. (1999). Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Yamin, M. (2008). Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Jakarta : Gaung Persada Press.

Zainuri. (2007). Pembelajaran Matematika Realistik, http://zainurie.wordpress.com/2007/04/13/pembelajan-matematika realistik

Zuriah, N. (2009). Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara




Sumber: http://www.infodiknas.com

Tuesday, August 27, 2013

Evaluasi Strategi Pembelajaran Matematika Teknik I Berdasarkan Uji Periksa Kemampuan Awal Mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin

Evaluasi Strategi Pembelajaran Matematika Teknik I Berdasarkan Uji Periksa Kemampuan Awal Mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin


Sumarno [Dosen UNIMED. Bidang Keahlian Penelitian dan Evaluasi Pendidikan]



Abstrak
            Dilihat dari latar belakang pendidikannya mahasiswa pendidikan teknik mesin  Unimed berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Karakteristik awal yang berbeda ini mengakibatkan entry knowledge matematika sangat berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat keberhasilan pembelajaran Matematika I menggunakan uji periksa kemapuan awal.


Penelitian ini dikenakan pada seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Matematika I. Analisis yang digunakan adalah model kesenjangan (discrepancy model) fase tiga dari model yang dikembangkan oleh Malcolm Provus. Untuk mengetahui keberhasilan strategi pembelajaran dengan uji-periksa kemampuan awal, digunakan tes.  Yang menjadi indikator keberhasilan strategi pembelajaran dengan uji-periksa kemapuan awal adalah prestasi yang dapat dicapai mahasiswa dibandingkan dengan strategi sebelumnya (tidak dengan uji-periksa kemampuan awal). Untuk mengetahui perbedaan ini dilakukan uji beda (uji t).
Hasil analisis kesenjangan menunjukkan bahwa mahasiswa asal SMA sebagian besar mengelompok pada kelompok kurang menguasai sub pokok bahasan matematika SMA yang dibutuhkan untuk pembelajaran Matematika Teknik I, sedangkan mahasiswa asal SMKTI sebagian besar mengelompok pada kelompok sama sekali tidak menguasai. Pembelajaran dengan uji periksa kemampuan awal lebih efektif dalam mengembangkan aktivitas pembelajaran tidak efektif bila taraf signifikansi (α) = 5%, tetapi efektif bila taraf signifikansi (α) = 10%.

A. Pendahuluan
Berdasarkan asal sekolah, mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan dapat dibedakan menjadi mahasiswa yang berasal dari sekolah menengah atas (SMA) dan mahasiswa yang berasal dari sekolah menengah kejuruan dan industri (SMKTI). Perbedaan kedua institusi tersebut tidak sekedar perbedaan “label”, definisi, struktur organisasi dan tujuan pendidikannya saja, tetapi secara filofis keberadaan kedua sekolah tersebut jauh berbeda. Perbedaan ini tercermin dalam aspek-aspek lain yang erat kaitannya dengan perencanaan kurikulum, yaitu: (1) aspek orientasi pendidikannya, (2) justifikasi untuk eksistensinya, (3) fokus kurikulum, (4) kriteria keberhasilannya, (5) kepekaan terhadap perkembangan masyarakat, (6) perbekalan logistiknya, dan (7) hubungan dengan masyarakat dunia usaha (Sukamto, 1988).
Bila perbedaan-perbedaan di atas dipetakan ke unit yang lebih spesifik, yaitu fokus kurkulum SMU/SMKTI, khususnya kurikulum Matematika (kurikulum dalam arti rencana yang tertulis, yaitu garis-garis besar program pengajaran = GBPP), maka akan terdapat berbagai perbedaan-perbedaan; seperti: pokok bahasan yang disajikan, jumlah dan macam pokok bahsan, jumlah jam per pokok bahasan, dan jumlah jam per semester. Perbedaan GBPP (silabus) mata pelajaran Matematika ini mengakibatkan perbedaan proses pembelajarannya, yang akhirnya akan bermuara pada perbedaan kemampuan mahasiswa dalam memahmi dan menyelesaikan soal-soal Matematika.
Menurut Mooduto (1988) matematika di pendidikan teknik mempunyai fungsi sebagai dan peranan sebagai alat Bantu bagi mata kuliah bidang studi, karena pada setiap persoalan dalam mata kuliah bidang studi senantiasa menggunakan konsep-konsep matematika sebagai alat Bantu untuk mencari solusi dari setiap persoalan  yang muncul. Persoalan-persoalan tersebut terlebih dahulu diterjemahkan dalam bentuk matematis, kemudian dilakukan upaya penyelesaian dengan cara matematis dan selanjutnya diterjemahkan atau ditafsirkan kembali sesuai dengan kaidah-kaidan mata kuliah bidang studi (MKBS).
Karena mahasiswa yang bersal dari SMKTI mempunyai kemampuan awal matematika yang lebih rendah  jika dibandingkan dengan mahasiswa yang berasal dari SMA, maka akan berakibat pada rendahnya prestasi pada mata kuliah-mata kuliah yang membutuhkan konsep-konsep matematika. Misalnya, seperti pada Mata Kuliah Mekanika Teknik. Hasil penelitian Muslin (1997) menunjukkan bahwa mahasiswa yng berasal dari SMA memiliki prestasi belajar Mekanika Teknik I lebih tinggi jika dibandingkan dengan mahasiswa yang berasal dari SMKTI
Dalam pendekatan sistem instruksional, kegiatan mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal mahasiswa merupakan tahap (kegiatan) awal dari sistem instruksional (Gambar 1). Gambar ini menunjukkan bahwa untuk melakukan tindakan pengembangan kemampuan mahasiswa yang tepat diperlukan adanya identifikasi kemampuan awal mahasiswa. Upaya yang dapat ditempuh untuk mengetahui kemapuan awal mahasiswa adalah dengan melihat/memahami tingkat pemahaman mahasiswa terhadap pokok-pokok bahasan/analisis tugas (Tuti, 1986), dan efikasi (perkiraan kemampuan diri) dalam menyelesaikan soal-soal (Sukamto, 1999).
Gambar 1. Bagan Pendekatan Sistem Instruksional
            Secara prosedural kedudukan kegiatan mengidentifikasi kemampuan awal merupakan rangkaian seri dengan kegiatan pengembangan instruksional. Dengan demikian tahap mengidentifikasi karaktetistik dan kemampuan awal mahasiswa akan mempengaruhi tahap pengembangan, yang meliputi: (1) menulis tujuan instruksional, (2) menulis tes, (3) menyusun strategi instruksional, dan (4) mengembangkan bahan instruksional (Suparman, 1991).
Uraian di atas menunjukkan bahwa identifikasi (uji-periksa) kemampuan awal mahasiswa yang meliputi pemahaman dan efikasi materi matematika ketika mereka masih di SLTA (SMA atau SMKTI) merupakan langkah instruksional yang sangat penting dan sangat menentukan langkah instruksional berikutnya (Sukamto, 1999). Untuk mengetahui apakah suatu program (pembelajaran dengan uji periksa kemampuan awal) dibutuhkan dan mungkin untuk dilaksanakan, apakah program tersebut memadai untuk memenuhi kebutuhan yang telah diidentifikasi, apakah program yang telah dilakukan seperti yang diharapkan, dan apakah program tersebut sungguh-sungguh membantu orang tentang apa yang dibutuhkan, apakah hasil program telah sesuai dengan yang diharapkan, apakah proses program telah berjalan seperti yang diharapakan  diperlukan adanya evaluasi (Pasovac & Carey, 1985)
B. Masalah  Penelitian
Pada pembelajaran Matematika Teknik I, bisanya kemampuan awal ditentukan berdasarkan asumsi. Asumsi seperti ini tidak selalu benar, dan akan membawa akibat-akibat tertentu. Apabila kemampuan awal mahasiswa ditentukan terlalu tinggi, maka hanya mahasiswa yang pandai sajalah yang akan dapat mengikuti dan menerima materi ajar, sehingga proses pembelajaran tersebut tidak efektif. Sebaliknya bila kemampuan awal ditentukan terlalu rendah, maka (1) mahasiswa akan kehilangan banyak waktu untuk mempelajari materi ajar yang sebetulnya mereka sudah memahaminya, (2) mereka akan kehilangan motivasi untuk belajar dan merasa bosan, dan (3) dosen akan kehilangan waktu dan tenaga terlalu banyak untuk merancang materi instruktional yang sebetulnya tidak dibutuhkan mahasiswa (Tuti, 1986).
Akibat dari pembelajaran yang mengabaikan kemampuan awal seperti ini akan mengakibatkan mahasiswa yang berasal dari SMKTI cenderung berada pada kelompok mahasiswa dengan nilai rendah, sedangkan mahasiswa yang berasal dari SMA akan berada pada kelompok dengan nilai tinggi, sehingga berakibat pada proses pembelajaran pada masa kuliah lainnya yang membutuhkan konsep-konsep matematika.
Adapun perumusan masalah penelitian disajikan sebagai berikut:
  1. Bagaimanakah gambaran tingkat pemahaman mahasiswa terhadap pokok bahasan matamateka SLTA yang dibutuhkan dalam pembelajaran Matematika Teknik I ?
  2. Apakah strategi pembelajaran Matematika I yang dilakukan dengan berdasarkan hasil uji-periksa kemampuan awal lebih efektif jika dibandingkan dengan tanpa uji-periksa kemampuan?
  3. Apakah strategi pembelajaran berdasarkan hasil uji-periksa kemampuan awal lebih baik dalam meningkatkan prestasi belajar Matematika I mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin jika dibandingkan dengan tanpa uji-periksa kemampuan?

C. Tinjaun Pustaka
1. Uji-Periksa Kemampuan Awal Matematika
Indonesia menerapkan  pola persekolahan  yang terdiri atas dua  jalur  atau yang sering disebut dengan double tracks school system. Pada pola ini sekolah menengah dikelompokkan dalam dua jalur, yaitu sekolah menengah umum (SMU) yang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah dirubah menjadi sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK).  SMK ini merupakan peleburan nama dari berbagai kelompok sekolah kejuruan yang mengindikasikan bidang keahliannya masing-masing, seperti sekolah menengah atas (SMEA), sekolah teknologi menengah (STM), sekolah menengah kesejahteraan keluarga (SMKK), dan lain-lain.
SMKTI merupakan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang mengorientasi-kan lulusannya untuk memasuki lapangan kerja dalam bidang teknologi dan industri. Dalam praktik di lapangan SMKTI dikenal dengan STM. SMKTI sebagai bagian dari sistem pendidikan menengah  tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Walaupun demikian SMKTI sebagai salah satu bentuk pendidikan kejuruan mempunyai kekhususan atau karakteristik tertentu yang membedakanya dengan sistem pendidikan sekolah menengah umum.
Dilihat dari latar belakang asal sekolah mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Pendidikan Teknik Mesin dapat dibedakan menjadi mahasiswa yang berasal dari SMKTI (STM) dan mahasiswa yang berasal dari SMA. Karena secara filosif berbeda, maka perbedaan ini akan memberi warna yang berbeda pada berbagai aspek. Pada aspek yang berkenaan dengan mata pelajaran yang sajikan, maka akan diketahui perbedaan jenis (nama) mata pelajaran, pemaknaan, misi dan fungsi dari mata pelajaran tersebut.
Bila perbedaan ini dipetakan ke unit yang lebih khusus, yaitu mata pelajaran matematika, maka akan diketahui bahwa pengertian, fungsi dan tujuan dari pemberian mata pelajaran matematika dari kedua instusi tersebut (SMA dan SMKTI) sangat berbeda. Mata pelajaran matematika di SMK dimakna sebagai bahan kajian dan pelajaran yang bersifat memberi bekal kemampuan kepada siswa untuk berpikir logas dan kritis, yang digunakan sebagai alat bantu untuk memecahkan masalah-masalah dalam pekerjaan yang sesuai dengan program keahlian masing-masing. Sedangkan pada SMA dimaknai sebagai bahan kajian dan pelajaran yang bersifat memberi bekal kemampuan siswa untuk berpikir logis dan kritis yang digunakan untuk menggali ilmu pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Perbedaan ini akan sangat mempengaruhi jumlah jam mata pelajran matematika dan tingkat kedalamannya. Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa bekal materi mata pelajaran yang diberikan pada siswa SMA jauh lebih banyak dibandingkan dengan SMKTI (STM).
Uji periksa merupakan kegiatan awal sebelum proses kegiatan penyajian materi perkuliahan yang dimaksudkan untuk mengetahui tingkat penguasaan mahasiswa pendidikan Teknik Mesin terhadap materi matematika SLTA yang nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk memahmi matematika I. Dengan diketahuinya kemampuan awal mahasiswa baik  yang berasal dari SMA maupun SMKTI akan dapat ditentukan strategi pembelajaran yang tepat, sehingga dengan pendekatan ini akan diperoleh prestasi belajar mahasiswa yang lebih baik pula.
  1. 2.    Strategi Pembelajaran
Kata pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instructional”. Kata ini merupakan serapan dari Bahasa Inggris yang berarti bersifat pengajaran, yang dalam Bahasa Indonesia diartikan dengan istilah pembelajaran. Dengan demikian istilah instruksional yang digunakan dalam bagian ini diartikan sama dengan  pembelajaran. Kata pembelajaran menunjukkan adanya dua aktivitas, yaitu: ada yang mengajarkan dan ada yang menerima pengajaran (belajar). Mengajar dapat diartikan sebagai penciptaan suatu sistem lingkungan yang memungkin terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi. Misalnya, tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa/mahasiswa yang harus memainkan peranan, bentuk kegiatan yang dilakukan, serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia. Komponen-komponen ini saling mempengaruhi sehingga setiap peristiwa belajar mengajar mempunyai profil yang unik. Hal ini berarti masing-masing profil sistem lingkungan belajar mengakibatkan tercapainya tujuan-tujuan belajar yang berbeda (Raka, 1983).
Istilah strategi dapat digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang tidak selalu sama. Dalam konteks belajar mengajar, strategi berarti pola umum perbuatan guru murid, dosen mahasiswa di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar (Raka, 1983). Selanjutnya pada bagian lain juga diutarakan bahwa konsep strategi menunjukkan pada karakteristik abstrak rentetan perbuatan guru-murid di dalam persitiwa belajar mengajar. Implisit di balik karakteristik abstrak itu ada rasional yang membedakan strategi yang satu dari strategi yang lain secara fundamental.
Dick dan Carey (1985) menyatakan bahwa strategi instruksional menjelaskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan instruksional dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama-sama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu pada siswa atau mahasiswa.
Menurut Suparman (1991) strategi pembelajaran berkenaan dengan pendekatan pengalajran dalam mengelola kegiatan instruksional secara sistematis sehingg isi pelajaran dpaat dikuasai oleh siswa atau mahasiwa secara efektif dan efisien. Selanjutnya juga dijelaskan bahwa di dalam strategi instruksional mengangdung empat pengertian: (1) urutan kegiatan instruksional, (2) metode instruksional, (3) media instruksional, dan (4) waktu yang digunakan oleh pengajar dan siswa/mahasiswa.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa strategi instruksional merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pelajran dan siswa/mahasiswa, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Di samping itu untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional, seorang guru/dosen memerlukan wawasan yang mantap tentang kemungkinan-kemungkin strategi pembelajaran (belajar-mengajar) yang sesuai dengan tujuan-tujuan belajar.
3.  Pentingnya Uji-Periksa Kemampuan Awal Dalam Pembelajaran
Dalam kegiatan pebelajaran ada kegiatan yang disebut dengan identifikasi kemapuan awal mahasiswa/mahasiswa. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengidenifikasi keterampilan-keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan mahasiswa dalam usaha mencapai tujuan instruksional. Pengetahuan dan keterampilan ini meskipun bukan merupakan tujuan akhir pembelajaran, tetapi harus dikuasai mahasiswa/siswa agar ia dapat melakukan keterampilan atau mempelajari pengetahuan yang sifat lebih kompleks (Tuti, 1986).
Dalam teori belajar tingkah laku (behavioristic) ada suatu proses belajar yang disebut dengan orientasi. Orientasi ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat menangkap dan memahami ilmu yang akan disajikan oleh pengajar. Untuk intu pada waktu proses orientasi mahasiswa harus sudah memiliki pengetahuan atau keterampilan berpikir yang diperlukan untk memahami ilmu yang akan diberikan oleh pengajar. Disinlah pentingnya kemampuan awal mahasiswa yang harus diketahui oleh pengajar/dosen, agar dosen dapat menyusun rencana pengajaran yang tepat.
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa memahami karakteristik dan kemapuan awal mahasiswa merupakan kegiatan yang sangat penting, karena kegiatan ini akan sangat mempengaruhi keberhasilan belajar mahasiswa (Sukamto, 1999). Untuk mengetahui lebih jauh kondisi awal mahasiswa diperlukan kegiatan analisis tugas. Dari kegiatan ini akan diketahui prerekuisit esensial dan prerekuisit suportif.
Menurut Tuti (1986) prerekuisit esensial merupakan keterampilan atau pengetahuan yang harus sudah dimiliki/dikuasai siswa/mahasiswa apabila ingin mencapai tujuan instruksional secara efektif. Sebagai contoh, mahasiswa tidak akan dapat menyelesaikan persamaan integral triogonometri dengan benar, sebelum mahasiswa yang bersangkutan memahami konsep-konsep trigonometri. Sedangkan prerekuisit suportif adalah prerekuisit yang tidak harus ada/dikuasai oleh mahasiswa, tetapi adanya prerekuisit ini akan memperlancar proses belajar. Yang termasuk ke dalam prerekuisit suportif antara lain: sikap, informasi verbal, dan strategi kognitif.
Dosen sebagai perancang dan eksekutor instruksional diharapkan mempunyai kemampuan mengidentifikasi kemampuan awal yang dimiliki mahasiswa sebelum ia memulai pembelajarannya. Menurut Sukamto (1999) kemampuan awal dapat diketahui berdasarkan pemahaman mahasiswa terhadap materi pokok-pokok bahasan atau sub pokok bahasan dan efikasi (perkiraaan kemampuan diri) dalam menyelesaikan soal-soal.
Menurut Tuti (1986: 26) mengidentifikasi kemampuan awal mahasiswa sangat penting karena:
  1. Mahasiswa tidak akan mengalami kesukaran dalam menerima pelajaran yang akan diberikan.
  2. Dosen dapat mengetahui darimana ia akan memulai pemberian pelajaran.
  3. Dosen tidak membuang-buang waktu untuk mengajar keterampilan/ pengetahuan yang telah dikuasai mahasiswa.
D. Metode Penelitian
1. Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan di program studi Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Medan. Adapun unit analisisnya adalah mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin yang mengikuti perkuliahan Matematika Teknik I pada tahun akademik 2007/2008. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kuasi eksperimen, dengan kelompok treatment adalah mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin yang mengikuti Matematika Teknik I tahun akademik 2007/2008; dan kelompok kontrol adalah mahasiswa tahun sebelumnya yang mengikuti Matematika Teknik I yang diperlukan tanpa uji periksa kemampuan awal.
2. Kegiatan Penelitian
Penelitian quasi eksperimen ini dilakukan mencakup aktivitas: perencanaan, pelaksanaan/aktivitas penelitian, dan analisis data.
a. Perencanaan
Kegiatan yang termasuk dalam tahap perencanaan adalah:
  1. Membuat daftar cek yang berisikan daftar pokok bahasan yang tercakup dalam standar kompetensi matematika (silabus) dari masing-masing institusi (SMA dan SMKTI).
  2. Mempersiapkan/membuat instrumen evaluasi diri yang dimaksudkan untuk mengungkap kemampuan mahasiswa terhadap sub-sub pokok bahasan yang pernah diajarkan di SLTA yang juga diperlukan sebagai konsep pendukung Matematika Teknik I.
  3. Membuat instrumen  atau soal tes yang mencakup sub-sub pokok bahasan SLTA yang juga diperlukan sebagai konsep pendukung dalam memahami materi Matematika Teknik I, dan pada bagian samping dari masing-masing soal diberi kolom efikasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal tersebut.
  4. Membuat alat banru mengajar (hand out) materi Matematika SLTA yang diperlukan sebagai konsep penunjang Matematika Teknik I yang belum dikuasai mahasiswa.
  5. Membuat alat evaluasi (soal tes) untuk mengetahui pencapai belajar dari setiap pertemuan/sub pokok bahasan.

b. Pelaksanaan/Aktivitas Penelitian
Ada tiga tahap pelaksanaan penelitian, yaitu: (1) uji-periksa kemampuan awal, yang mencakup tahap pemberian instrumen evaluasi diri yang berupa daftar cek sub-sub pokok bahasan SLTA yang diperlukan sebagai konsep pendukung Matematika I yang belum dikuasai oleh mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin. Pemberian tes ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat pemahaman dari masing-masing sub-sub pokok bahasan, efeikasi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan masing-masing soal. (2) tahap pemberian bahan ajar (hand out) dari konsep-konsep yang belum dikuasai, dan (3) tahap evaluasi.
Tahap pertama diberikan/dilaksanakan beberapa hari sebelum kegiatan pembelajaran dan dikembalikan paling lambat tiga hari sebelum kegiatan pembelajaran.  Berkas uji-periksan kemapuan awal ini dapat dibawa pulang untuk dikerjakan di rumah. Tahap kedua dilakukan pada setiap dua hari sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Tenggang waktu dua hari ini dimaksudkan untuk mendistribusikan bahan ajar (hand out sesuai dengan kedudukan kemampuan awal mahasiswa) dan mahasiswa mempunyai waktu untuk mempelajarinya. Tahap ketiga dilakukan setiap akhir kegiatan pembelajaran (sub pokok bahasan) yang berupa tugas yang harus dikerjakan di rumah.
Kelompok kontrol adalah mahasiswa semesternya yang diajar oleh dosen yang sama, tetapi tanpa strategi pembelajarannya tanpa uji periksa kemampuan awal.
c. Teknik Pengumpulan Data
Ada lima teknik atau cara yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian tindakan ini, yaitu:
  1. Untuk mengetahui apakah pada waktu di SLTA mahasiswa pernah belajar konsep-konsep matematika yang diperlukan sebagai pendukung penguasaan Matematika Teknik I. Untuk ini digunakan daftar cek. Dengan daftar cek ini akan diketahui sub-sub pokok bahasan yang pernah dan yang belum pernah diajarkan ketika di SLTA.
  2. Untuk mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa terhadap materi pendukung tersebut di atas digunakan instrumen self evaluation dan instrumen tes. Self evaluation ini dibuat dengan skala Likert dengan empat gradasi, yaitu sama sekali tidak menguasai, sedikit menguasai, cukup menguasai, dan menguasai. Instrumen tes disusun berdasarkan daftar kompetensi matematika yang diberikan ketika di SLTA yang kemudian dimatchkan dengan materi Matematika Teknik I.
  3. Untuk mengetahui efikasi mahasiswa terhadap materi matematika SLTA yang diperlukan sebagai pendukung Matematika Teknik I, pada setiap soal tes disertai dengan kolom waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan soal masing-masing.
  4. Untuk mengetahui keberhasilan strategi pembelajaran yang digunakan di setiap pertemuan, maka di setiap pertemuan (sub pokok bahasan) mahasiswa akan diberi tes singkat.
  5. Untuk mengetahui efisien, maka dosen akan menggunakan standar waktu sebelumnya (tanpa uji-periksa kemampuan awal). Apakah waktu yang diperlukan pada pembelajaran dengan uji-periksa akan sama atau lebih sedikit dibandingkan pembelajaran sebelum (tanpa uji-periksa kemampuan awal).

3. Analisis Data
Analisis yang digunakan adalah model kesenjangan (discrepancy model) fase tiga dari model yang dikembangkan oleh Malcolm Provus. Model ini dimaksudkan untuk mengetahui: (1) tingkat kesuaian antara standar kompetensi yang telah ditentukan di Fakultas Teknik denan standar kompetensi yang telah diberikan di SLTA atau dengan kata lain ketersedian materi matematika SLTA yang diperlukan sebagai pendukung Matematika Teknik I. (2) waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran dengan uji-periksa kemampuan awal (per sub pokok bahasan) dibandingkan dengan waktu standar (tanpa uji-periksa kemampuan awal). Analisis ini mengarah pada evaluasi terhadap efiseinsi waktu yang diperlukan pada pembelajaran dengan uji-periksa kemampuan awal.
Untuk mengetahui keberhasilan strategi pembelajaran dengan uji-periksa kemampuan awal, digunakan penilaian acuan patokan (PAP) terhadap hasil tugas dan tes singkat.  Yang menjadi indikator keberhasilan strategi pembelajaran dengan uji-periksa kemapuan awal adalah prestasi dapat dicapai mahasiswa dibandingkan dengan strategi sebelumnya (tidak dengan uji-periksa kemampuan awal). Untuk mengetahui perbedaan ini dilakukan uji beda (uji t).

E. Hasil Penelitian Dan Pembahasan
1. Hasil Uji Periksa Kemampuan Awal
            Hasil uji periksa kemampuan awal  mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin, yang berasal dari SMA dan SMKTI (STM) terhadap materi matematika SLTA yang merupakan dasar untuk mempelajari Matematika Teknik I, dapat dikelompok menjadi empat kelompok, yaitu: sama sekali tidak menguasai (SSTM), kurang menguasai (KM), cukup menguasai (CM), dan menguasai (M). Persentase masing-masing kelompok dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2 berikut ini.
Tabel 1
Persentase Tingkat Penguasaan Mahasiswa Asal SMA
Terhadap Materi Matematika SLTA
Pokok bahasan
Tingkat penguasaan
SSTM
KM
CM
M
Relasi dan fungsi
20%
56,67%
10%
13,33%
Persamaan dan pertidaksamaan
15,62%
53,12%
21,87%
9,39%
Trigonometri
22,58%
48,39%
12,90%
16,13%
Matrik dan determinan
9,37%
37,5%
28,12%
25,01%
Vektor
41,93%
51,61%
6,46%
-
Limit fungsi
13,33%
40,00%
28,88%
17,79%
Turunan
14,58%
46,66%
19,38%
19,38%
Berdasarkan paparan Tabel 1 dapat diketahui bahwa, pemahaman mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin asal SMA terhadap materi matematika SLTA yang diperlukan sebagai dasar untuk mempelajari Matematika Teknik I termasuk dalam kelompok kurang menguasai dan sama sekali tidak menguasa. Walaupun demikian yang termasuk alam kelompok cukup menguasai berkisar antara 6 – 29%, sedangkan yang termasuk dalam kelompok menguasai 9 – 26%, kecuali untuk pokok bahasan vektor.
Tabel 2
Persentase Tingkat Penguasaan Mahasiswa Asal SMKTI
Terhadap Materi Matematika SLTA
Pokok bahasan
Tingkat penguasaan
SSTM
KM
CM
M
Relasi dan fungsi
44,56%
41,30%
8,69%
5,45%
Persamaan dan pertidaksamaan
52,25%
45,76%
-
1,99%
Trigonometri
52,47%
44,27%
12,36%
3,75%
Matrik dan determinan
33,90%
55,93%
8,47%
1,7%
Vektor
41,67%
51,67%
6,66%
-
Limit fungsi
35,58%
48,31%
12,36%
3,75%
Turunan
52,17%
33,70%
8,69%
5,44%

Berdasarkan Tabel 2 di atas diperoleh gambaran bahwa pemahaman mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin asal SMKTI (STM) terhadap materi matematika SLTA yang diperlukan sebagai dasar untuk mempelajari Matematika Teknik I mengelompok pada kelompok kurang menguasai dan sama sekali tidak menguasa. Konsisi ini juga menujukkan bahwa penguasaan mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin yang berasal dari SMKTI (STM) jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan yang berasal dari SMA. Yang termasuk dalam kelompok cukup menguasai hanya berkisar antara 8% sampai 13%, bahkan tidak ada yang masuk dalam kelompok cukup menguasan pada pokok bahasan Persamaan dan Pertidaksamaan. Mahasiswa yang termasuk kelompok menguasai hanya berkisar antara 1% sampai 6%.
Materi matematika SLTA yang diperlukan sebagai dasar untuk mempelajari Matematika Teknik I menunjukkan bahwa pada SMA semua pokok bahasan materi telah pernah mereka pelajari, sedangkan pada SMKTI (STM), ada beberapa sub pokok bahasan yang tidak diajarkan ketika di STM. Hasil dari uji periksa ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang menyatakan: fungsi komposisi tidak pernah dipelari 10%,  grafik trigonometri 30%, vektor 43%, turunan fungsi komposisi 63%, dan turunan parsial 76%.
2. Efektivitas dan Efisiensi Pembelajaran dengan Uji-Periksa.
Dalam dua kali pelaksanaan pembelajaran menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menyajikan kedua materi pokok bahasan dapat dikatakan tidak berbeda jika dibandingkan dengan waktu tahun sebelumnya (yang tidak menggunakan uji-periksa). Walaupun hal ini dapat dikatakan tidak berbeda (tidak efisien), tetapi pembelajaran dengan uji periksa kemampuan awal dapat dikatakan lebih efektif dalam meningkatkan aktivitas pembelajaran jika dibandingkan dengan tidak menggunakan uji periksa kemampuan awal. Hal ini terlihat dari mahasiswa yang memperoleh hand out beberapa hari sebelum pembelajaran, terlihat segera membuka hand out yang pernah diberikannya, dan 83% mahasiswa yang diberi hand out menyatakan bahwa mereka telah mempelajarinya secara sendiri, serta ada 52% mahasiswa menyatakan telah mempelajarinya dengan teman yang lain, 20% mahasiswa asal SMKTI menyatakan merasa kemampuan matematikanya lebih baik.
Di samping itu mahasiswa yang berasal dari SMKTI terlihat lebih termotivasi dan lebih bersemangat dalam mengikuti perkulian. Indikasi ini menunjukkan bahwa dengan uji periksa kemampuan awal.
3. Perbedaan Prestasi Belajar Mahasiswa
Berdasarkan Tabel 3 di bawah ini dapat diketahui bahwa F hitung untuk uji-periksa dan non uji (A) dengan Equal variance assummed (diasumsikan kedua varians sama atau menggunakan pooled variance t test) adalah 5,040 dengan probabilitas 0,27. Karena probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak, jadi dapat dinyatakan varians kedua kelompok (mahasiswa tahun akademik 2006/2007 dengan mahasiswa 2007/2008) benar-benar tidak sama.
Tabel 3
Uji Beda dengan t Tes

Perbedaan yang nyata dari kedua varians tersebut membuat penggunaan varians untuk membandingkan rata-rata populasi dengan t test sebaiknya menggunakan dasar Equal variance not assumed (diasumsikan kedua varian tidak sama).
Analisis dengan memakai t test untuk asumsi varians tidak sama hipoteis yang diuji adalah:
Ho =  Kedua rata-rata poplasi adalah identik (rata-rata prestasi belajar mahasiswa stambuk 2006/2007 dan 2007/2008 adalah sama).
Ha =  Kedua rata-rata poplasi adalah tidak identik (rata-rata prestasi belajar mahasiswa stambuk 2006/2007 dan 2007/2008 adalah berbeda).
Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa F hitung untuk hitung untuk uji-periksa dan non uji-periksa (A) dengan equal variance not assumed (diasumsikan kedua varians tidak sama atau menggunakan separate variance test adalah 1,943 dengan probabilitas 0,55. Karena probabilitas > 0,05, maka Ho diterima, dengan kata lain kedua rerata prestasi mahasiswa tahun akademik 2006/2007 (non uji-periksa) dan tahun akademik 2007/2008 (dengan uji-periksa) tidak berbeda. Bila menggunakan α = 10%, maka Ho ditolak, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa  kedua rerata prestasi mahasiswa tahun akademik 2006/2007 (non uji-periksa) dan tahun akademik 2007/2008 (dengan uji-periksa) berbeda dengan tingkat kepercayaan 90%.
Berdasarkan Tabel 3 juga dapat diketahui bahwa perubahan penggunaan equal variance assumed ke equal variance not assumed mengakibatkan menurunya degree of freedom (derajat kebebasan), yaitu dari 92 menjadi 90,428 atau kegagalan mengasumsikan kesamaan varians berakibat keefektifan ukuran sampel menjadi 1,57% lebih.

4. Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil temuan penilitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran dengan uji periksa kemampuan awal tidak lebih efisien dibandingkan dengan pembelajaran tanpa uji periksa kemampuan awal. Hal dapat disebabkan oleh perbedaan komposisi mahasiswa, dimana kelompok kontrol (tanpa uji periksan kemampuan awal) terdiri atas 75% berasal dari SMA dan 25% dari SMKTI, sedangkan mahasiswa yang diajar dengan uji periksa kemampuan awal terdiri atas 50% berasal dari SMA dan 50% dari SMKTI. Komposisi ini sangat berpengaruh terhadap hasil belajar, dengan demikian walaupun kelompok uji periksa ada kenaikan prestasi belajar tetapi belum mampu menutupi perbedaan prestasi yang disebabkan oleh perbedaan komposisi.
Dilihat dari aspek aktivitas, strategi pembelajan dengan uji periksa dapat dikatakan efektif  karena mahasiswa yang berasal dari SMKTI lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran Matematika Teknik I. Hal ini dapat diketahui dari hampir semua mahasiswa yang berasal dari SMKTI merasa lebih termotivasi, dan 83% mahasiswa yang diberi hand out menyatakan bahwa mereka telah mempelajarinya secara sendiri, ada 52% mahasiswa menyatakan telah mempelajarinya dengan teman yang lain, dan 20% mahasiswa asal SMKTI menyatakan merasa kemampuan matematikanya lebih baik.
Bila dilihat dari hasil belajar,  hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan strategi pembelajaran dengan uji-periksa kemampuan awal tidak lebih efektif dibandingkan dengan tanpa uji-periksa kemampuan awal.  Dimana dengan taraf signifikansi 5% prestasi belajar kedua kelompok (dengan uji-periksa kemampuan awal dan tidak) tidak berbeda, tetapi bila menggunakan taraf signifikansi 10%, maka rerata kelompok dapat dinyatakan berbeda.
Walaupun pada mahasiswa dengan uji-periksa mengalami perbaikan prestasi tetapi kenaikkannya tidak mampu melebihi kemampuan mahasiswa tanpa uji-periksa. Hal ini dapat dipahami karena mahasiswa yang diperlakukan dengan uji-periksa 75% berasal dari SMKTI, sehingga perlakuan uji-periksa hanya mampu menyetarakan dengan mahasiswa tahun akademik sebelum yang sebagian besar berasal dari SMA (55%). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa walaupun rerata hasil pembelajaran dengan uji-periksa kemampuan awal tidak berbeda dengan tanpa uji periksa kemampuan awal, tetapi pembelajaran dengan uji periksan kemampuan awal mampu menyetarakan kemampuan awal mahasiswa dari kedua kelompok tersebut.


F. Simpulan dan Saran
a. Simpulan
  1. Strategi pembelajaran dengan uji-periksa kemampuan awal tidak lebih efektif dibandingkan dengan tanpa uji-periksa kemampuan awal. Hal ini disebabkan oleh varian awal yang berbeda (Tabel 3). Sehingga walaupun terjadi penambahan rerata pada pembelajaran dengan uji periksa belum mampu melampau kemampuan awal yang memang berbeda.
  2. Walaupun secara hipotesis rerata strategi pembelajaran dengan uji-periksa  tidak berbeda dengan tanpa uji periksa dengan taraf signifikansi 5%, tetapi dengan taraf signifikansi 10% dapat dinyatakan efektif. Keefektifan ini dapat dilihat amtivitas pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa, dan indikasi lain adalah bahwa pada pembelajaran dengan uji periksa kemampuan mampu menyetarakan kemampuan awal mahasiswa dari kedua kelompok (SMA dan SMK).

b. Saran
1. Kepada mahasiswa yang berasal dari SMKTI perlu belajar lebih dibandingkan dengan mahasiswa yang berasal dari SMA. Dengan belajar seperti seperti ini akan terjadi penyetaraan kemampuan awal, sehingga mereka dapat bersaing dengan rekannya yang berasal dari SMA.
2. Perlu adanya pengelompokkan mahasiswa SMKTI dan SMA) dalam pembelajaran matematika, sehingga asumsi yang digunakan dalam pembelajaran tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi. Bila terlalu rendah mahasiswa yang berasal dari SMA akan tidak termotivasi mengikuti perkulian Matematika Teknik I, dan bila terlalu tinggi mahasiswa yang berasal dari SMKI akan kesulitan mengikutinya, sehingga mereka akan merasa tidak mampu untuk mengikutinya. Akibat dari pembelajaran Matematika Teknik I yang kurang baik dapat mengakibatkan mahasiswa akan mengalami kesulitan dalam mengikuti perkualian mata kuliah lain yang memerlukan dasar matematika sebagai konsep dan logika berpikitnya.
3. Untuk melakukan penelitian yang lebih baik, maka pada saat dilakukan uji periksa kemampuan awal kedua kelompok harus dipisahkan; sehingga dapat diketahui seberapa besar pertambahan kemampuan awalnya.

Daftar Pustaka
infodiknas@yahoo.com


Sumber: http://www.infodiknas.com

Sunday, August 25, 2013

Buku SMP Kelas VII: IPA Kurikulum 2013

Buku SMP Kelas VII: IPA Kurikulum 2013




Sebagai salah satu rumpun ilmu yang digunakan untuk mengukur kemajuan pendidikan suatu negara, pemahaman peserta didik suatu negara terhadap IPA dibandingkan secara rutin sebagai mana dilakukan melalui TIMSS (the Trends in International Mathematics and Science Study) dan PISA (Program for International Student Assessment). Melalui penilaian internasional seperti ini kita bisa mengetahui kualitas pembelajaran IPA dibandingkan dengan negara lain. Materi IPA pada Kurikulum 2013 ini telah disesuaikan dengan tuntutan penguasaan materi IPA menurut TIMSS dan PISA.



Sesuai dengan konsep Kurikulum 2013, buku ini disusun mengacu pada pembelajaran IPA secara terpadu dan utuh, sehingga setiap pengetahuan yang diajarkan, pembelajarannya harus dilanjutkan sampai membuat siswa terampil dalam menyajikan pengetahuan yang dikuasainya secara konkret dan abstrak, dan bersikap sebagai makhluk yang mensyukuri anugerah alam semesta yang dikaruniakan kepadanya melalui pemanfaatan yang bertanggung jawab.

Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan siswa untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Sesuai dengan pendekatan yang dipergunakan dalam Kurikulum 2013, siswa diberanikan untuk mencari dari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap siswa dengan ketersediaan kegiatan pada buku ini. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam.


Semoga bermanfaat...

Wednesday, August 21, 2013

Buku SMP Kelas VII: Matematika Kurikulum 2013

Buku SMP Kelas VII: Matematika Kurikulum 2013



Buku Matematika Kelas VII untuk Pendidikan Menengah ini disusun dengan tujuan memberi pengalaman konkret-abstrak kepada peserta didik seperti uraian diatas. Pembelajaran matematika melalui buku ini akan membentuk kemampuan peserta didik dalam menyajikan gagasan dan pengetahuan konkret secara abstrak, menyelesaikan permasalahan abstrak yang terkait, dan berlatih berfikir rasional, kritis dan kreatif.


Sebagai bagian dari Kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya keseimbangan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan, kemampuan matematika yang dituntut dibentuk melalui pembelajaran berkelanjutan: dimulai dengan meningkatkan pengetahuan tentang metode-metode matematika, dilanjutkan dengan keterampilan menyajikan suatu permasalahan secara matematis dan menyelesaikannya, dan bermuara pada pembentukan sikap jujur, kritis, kreatif, teliti, dan taat aturan.


Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Sesuai dengan pendekatan yang dipergunakan dalam Kurikulum 2013, peserta didik diberanikan untuk mencari dari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap peserta didik dengan ketersedian kegiatan pada buku ini. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam.


Semoga bermanfaat....


Tuesday, August 20, 2013

Buku SMP Kelas VII: Bahasa Indonesia Kurikulum 2013

Buku SMP Kelas VII: Bahasa Indonesia Kurikulum 2013








Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII yang disajikan dalam buku ini disusun dengan berbasis teks, baik lisan maupun tulis, dengan menempatkan Bahasa Indonesia sebagai wahana pengetahuan. Didalamnya dijelaskan berbagai cara penyajian pengetahuan dengan berbagai macam jenis teks. Pemahaman terhadap jenis, kaidah dan konteks suatu teks ditekankan sehingga memudahkan peserta didik menangkap makna yang terkandung dalam suatu teks maupun menyajikan gagasan dalam bentuk teks yang sesuai sehingga memudahkan orang lain memahami gagasan yang ingin disampaikan.


Sebagai bagian dari Kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya keseimbangan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan, kemampuan berbahasa yang dituntut tersebut dibentuk melalui pembelajaran berkelanjutan: dimulai dengan meningkatkan kompetensi pengetahuan tentang jenis, kaidah dan konteks suatu teks, dilanjutkan dengan kompetensi keterampilan menyajikan suatu teks tulis dan lisan baik terencana maupun spontan, dan bermuara pada pembentukan sikap kesantunan berbahasa dan penghargaan terhadap Bahasa Indonesia sebagai warisan budaya bangsa.



Semoga Bermanfaat

Monday, August 19, 2013

Buku Kelengkapan Administrasi Kelas

Buku Kelengkapan Administrasi Kelas


Tugas guru di Sekolah Dasar (SD) bukan hanya mengajar, melainkan juga melakukan kegiatan administrasi kelas. Memasuki semester baru, guru harus mempersiapkan Buku Kelengkapan Administrasi Kelas.


Sebagai salah satu upaya mengembangkan dan memajukan kelas masing-masing yang berpengaruh pada perkembangan dan kemajuan sekolah, guru harus berusaha untuk tertib administrasi kelas.

Ada banyak macam Buku Administrasi Kelas yang harus disediakan untuk memperlancar dan menertibkan kegiatan administrasi di kelas. Berikut ini beberapa contoh Buku Administrasi Kelas yang bisa Anda download.


Buku Penghubung Orang Tua    >>Download<<

Buku Supervisi Kelas    >>Download<<

Buku Bimbingan dan Penyuluhan    >>Download<<

Buku Tamu Kelas    >>Download<<

Buku Peringkat Kelas    >>Download<<

Buku Catatan Penggunaan Alat Peraga    >>Download<<

Buku Kegiatan Guru    >>Download<<

Buku Pelaksanaan Perbaikan dan Pengayaan    >>Download<<

Buku Penerimaan Raport    >>Download<<

Buku Pengembalian Raport    >>Download<<

Buku Program Perbaikan dan Pengayaan    >>Download<<

Daftar Pinjaman Buku    >>Download<<



Dengan melengkapi Buku Administrasi Kelas sehingga selama dalam bertugas tidak ditemui kendala-kendala administratif yang berarti. Hal ini pun menjadi sebuah tuntutan sekolah.


Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2013/07/download-buku-kelengkapan-administrasi-kelas.html

Semoga bermanfaat...